August 27, 2010
Bahagia tidak selalu karena memperoleh sesuatu. Entah barang yang sudah lama kita idam2kan atau keinginan yang terpendam terpenuhi. Bahagia bisa juga karena dari memberi. Seperti cerita seorang teman yang bahagia meski ia kehilangan sesuatu. Saat menggowes ia berpapasan dengan seorang pemuda biasa yang bersepeda juga. Sepeda pemuda itu begitu biasa, teramat biasa dibandingkan sepeda teman saya tadi. Awalnya hanya berbasa-basi sampai akhirnya pemuda tadi bertanya di mana bisa membeli lampu kelap-kelip yang teramat bagus di matanya itu.
Teman saya sungkan menjawab sebab pasti pemuda tadi akan terkejut. Dengan sedikit berbohong bahwa ia masih memiliki satu lampu seperti itu, ia pun memberikan lampu tadi ke pemuda tadi. Ia merasa senang melihat pemuda tadi mukanya cerah. Teman saya tadi bilang bahwa bisa jadi dulu mukanya begitu sewaktu ibunya membelikan mainan yang ia idam2kan. Dengan memberi, teman saya tadi merasa bahagia.
(more…)
Hukum utama di muka Bumi ini adalah kesetimbangan. Kontradiksi akan menciptakan suatu kehidupan. Ada malam ada siang. Ada baik ada buruk. Ada panas ada dingin. Dan seterusnya. Dan sebagainya.
Jika kita merasa salah memilih sesuatu, cobalah untuk melihat dari sisi yang berseberangan. Pasti kita akan menyadari bahwa kita tidak salah. Benar? Belum tentu. Namun setidaknya kita menjadi bimbang akan kesalahpilihan kita.
Cerita berikut berasal dari seorang teman yang mencoba menerapkan “melihat dari sisi berseberangan”.
(more…)
July 6, 2010
Tak bisa dipungkiri bahwa tren sepeda saat ini berhasil mengangkat ekonomi rakyat, meski skalanya kecil dan sporadis. Siapa yang nyangka kalau di JPG ada Mpok Cafe, di Cihuni ada Mpok Aat, di Dago Pakar Bandung ada Warban dengan bandrek susu?
Meski hanya pada hari2 tertentu, warung2 itu laris diburu pesepeda yang baru saja beraktivitas. Warung di sepanjang trek pun tak luput kecipratan rejeki. Itu baru dari sisi warung dekat trek sepeda. Belum lagi bengkel2 sepeda kelas rakyat. Di dekat tempat tinggalku dulu hanya ada satu bengkel sepeda. Sebenarnya bukan bengkel sepeda murni sebab ia juga melayani perbaikan motornya, khususnya setel pelek.
Namun kini berdiri bengkel sepeda baru yang khusus sepeda. Ini seiring bangkitnya gerakan bersepeda. Karena di kawasan menengah ke bawah, maka sepeda yang ditangani pun bukan kelas jutaan. Sepeda lawas yang diperbarui adalah pangsanya. Saya suka nongkrong sambil bernostalgia melihat sepeda lawas diperbaiki. Ingin membeli salah satu sepeda tapi kok takut disentil anak2 karna dua sepeda saja sudah banyak.
Virus sepeda juga memberi penghidupan beberapa orang yang dulunya tidak punya pekerjaan tetap memperoleh penghasilan tambahan dengan menjadi pendamping rombongan yang akan mencoba trek sepeda. Meski tidak ada tarif pasti, tapi pemandu tersebut merasa senang. Selain bisa menyalurkan hobi bersepedanya, ia juga bisa mendapat tambahan uang. Jika ditarik ke atas, maka sepeda akan menggerakkan perekonomian skala menengah. Jika pemerintah tak bisa mengantisipasi, serbuan sepeda dari Cina akan meraja lela.
Sekarang ini saja Cina sudah menyerbu pasar sepeda Indonesia dengan frame2 klas menengah berharga puluhan juta. Ceruk yang membesar di kelas menengah ini siapa tahu akan bergeser ke kelas bawah. Dan suatu saat rangka sepeda murah membanjiri Indonesia. Industri kita pun gigit jari. Jadi, jangan anggap sepele tren bersepeda saat ini. Sanggupkah pemerintah menangkap peluang ini?
Jika di Taiwan ada sepeda bermerek Jakarta, mengapa tidak kita membikin sepeda nasional bermerek Garuda misalnya?
June 1, 2010
Rak bagasi asli Urbano terlalu rendah jika digunakan untuk menaruh panier. Dudukannya juga terlalu sempit untuk panier model strap di dasar tas. Ketika dipaksa di pasang, selain posisi panier gak stabil, kaki saat menggowes akan menyenggol tas sehingga kayuhan menjadi tidak leluasa.

Setelah dicat putih.
Solusi paling gampang ya ganti dengan yang sudah dirancang untuk membawa pannier. Baik yang nempel frame atau yang mengait ke seatpost. Cuma harga untuk itu ya lumayan juga.
Cara murah aku tempuh dengan memodifikasi rak bagasi bawaan Urbano. Aku membawanya ke bengkel tukang las dan bermodalkan besi sisa-sisa seukuran yang sama dengan besi pembuat bagasi bawaan Urbano. Pertama menambah panjang besi pengait rak bagasi ke kaitan di bawah sadel sepanjang sekitar 15 cm. Penyangga rak bagasi ke kaitan dekat hub pun otomatis perlu digeser ke depan. Penyangga asli menjadi penyangga tambahan. Dudukan yang sempit terpaksa ditambahi dudukan baru agar lebar. Aku sesuaikan saja dengan lebar strap panier milikku.
(more…)
May 28, 2010
Sewaktu acara gowes bareng teman2 ke Bogor, di jalan saya bertemu dengan goweser dari Ciputat. Dia sendirian dan saya berada di barisan belakang rombongan alias jadi “penyapu”. Kami pun mengobrol sepanjang perjalanan (selama bisa).

sumber: wordpress.com
Kebetulan goweser tadi, sebut Ipin – duh kok belum nanya nama aku, tapi apalah arti nama ‘kan – mau ke Ciawi. Saya dan teman2 mau ke Bogor, tepatnya Semplak. Dan inilah enaknya gowes, kita bisa ngobrol lebih leluasa.
Ipin tadi ternyata mahasiswa sebuah perguruan tinggi top di Ciputat. Dia belum lama gowesnya. Lagi-lagi saya tidak memperjelas seberapa lama belum lamanya itu. Toh bukan masalah penting bagiku. Mau belum lamanya itu sebulan atau setahun toh tetap saja sekarang ini dia sudah aktif menggowes.
(more…)
May 25, 2010
Dapat pinjaman mini velo Red Element, akhirnya dicoba untuk b2w dan b2h. Meski ukurannya kurang pas, namun sepeda ini lincah untuk bermanuver di kemacetan.
Sepeda dengan ukuran ban 20″ ini mirip sepeda lipat Urbanoku. Hanya lebih kokoh karena ini bukan sepeda lipat. Konstruksinya lebih ke sepeda mini. Hanya saja masih kurang ergonomis untuk tinggi sekitar 173 cm. Agak membungkuk.
Pertama kali menjajal agak labil mengendarai Red Element ini. Setang yang lebar dan posisi menunduk menjadi faktor penyebab. Namun setelah mencoba beberapa waktu, penguasaan sepeda akan segera terbentuk. Dan sepertinya naik velo ini adrenalin langsung memuncak dan ingin memacunya sekencang-kencangnya.
(more…)
May 14, 2010
Tahu-tahu saja ban belakang seliku kempes. Bongkar peralatan tambal ban, waduh … ternyata congkel bannya sudah patah. Tanya-tanya ke orang yang ada, tukang tambal ban lumayan jauh. Aha … untung ada warteg.

sumber: arima07.wordpress.com
Saya pun bergegas ke warteg dan mendekati penjaga warung lalu mengungkapkan maksudku. Awalnya diberi sendok yang model baru, yang super duper tipis itu. Setelah ngubek2 di tempat menaruh sendok dan piring akhirnya ketemulah dua sendok lawas yang gagangnya tebal.
Segera aku balikkan seli dan nyopot ban belakang. Olala … ternyata susah juga meski hub belakang sudah aku ganti dengan hub quick release. Pasalnya, aku sudah tambahi sprocket-nya dari enam menjadi delapan. Ternyata memang aslinya dipatenkan di enam dan jika dipasang lebih kudu mbenggang (diregangkan). Alhasil, keringat pun bercucuran di pagi menjelang siang itu.
Setelah terbongkar langsung aku keluarkan dan masalah lagi mencari lubang penyebab ban kempes. Begitu dipompa langsung kempes. Wah, berarti lubangnya besar. Terpaksa ke warteg lagi dan nebeng mencari lubang bocor ban di tempat cuci piring. Akhirnya ketemu. Ternyata besar juga dan beruntung cuma satu lubang.
(more…)
April 19, 2010
Setelah lama main sepeda, gatal juga kaki ini untuk ikut lomba. Akhirnya, kesampaian juga pada tanggal 11 April 2010 ikut JPG Mountain Bike XC Race di Taman Kota 2, BSD.

foto: yusri
Saya ikut mendaftar di kelas Master B (kategori umur 40 – 45 th). Trek Taman Kota 2 (Tamkot 2) termasuk trek baru yang dibikin memang untuk lomba. Selasa 6/4/2010 saya bersama Martin mencoba menjajal trek itu. Ditemani Pak Jimmy yang membikin trek, saya langsung keder dengan trek yang ada. Butuh teknik yang mumpuni untuk bisa menaklukkan beberapa turunan dan tanjakan yang ada di trek ini.
Berbekal sekali jajal itu saya pun memberanikan diri ikut lomba. Saat rooling all ada sekitar 38 peserta untuk Master B. Saya memperoleh nomer urut 341, dan berada di urutan belakang saat start. Melihat lawan yang sudah lama malang melintang di lomba saya pun santai saja. Target asal finish. Sebelumnya menargetkan 10 besar. Mimpi kali ye …. Apalagi untuk Master B kudu 3 lap.
(more…)
April 7, 2010
Setelah sepeda lipat, dunia persepedaan kini dihinggapi virus fixie (fixed gear). Mengikuti jejak gerakan kembali ke alam, fixie pun mengajak pesepeda untuk kembali ke awal mula sepeda. Sederhana dan minimalis.
Bentuknya yang minimalis dan warna ngejreng membuatnya tampak seksi. Tak ada lilitan kabel berjubel layaknya sepeda masa kini. Kalaupun ada kabel, itu hanya untuk rem depan. Begitu juga dengan gir di depan atau belakang cuma ada satu lingkaran. Lalu, bagaimana menghentikan laju sepeda ini jika tidak ada rem? Karena girnya dibuat mati (fixed) yang berarti pedal berputar mengikuti putaran as roda belakang, maka untuk menghentikan laju sepeda ini cukup dengan memutar pedal ke belakang.
(more…)
March 24, 2010
Kalau memperpanjang teman saya iseng, “Bawa saja ke Mak Erot!” Makanya, saya memberi judul “memperbarui”. Karena memang SIM jadi baru lagi. Ini kali kedua memperbarui SIM di Depok.
Dulu, saya sempat tergelincir oleh calo. Gara-garanya tes kesehatan yang semau mereka. Ngujinya (tes mata) tidak serius. Terus ruangannya juga remang-remang sehingga huruf yang suruh ditebak tidak jelas. Aku ragu-ragu menjawabnya langsung diberi keterangan tidak lulus. Protes malah dicuekin. Ujung-ujungnya minta “uang lulus”.
Dari tes kesehatan lalu aku menuju loket pendaftaran. Saat mengisi formulir yang saya peroleh setelah membayar formulir dan asuransi, tiba2 ada polisi yang memanggil dari dalam ruangan. Intinya mau membantu mengurangi antrian hehe …. Karena harga yang ditawarkan masuk dinalar, ya sudah. Aku embat deh. Saya agak lupa habis berapa waktu itu. Yang jelas tidak berbeda jauh dengan biaya normal.
(more…)