<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>agus sur</title>
	<atom:link href="http://gussur.net/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://gussur.net</link>
	<description>another side of ...</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Aug 2010 12:28:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bahagia Karna Memberi</title>
		<link>http://gussur.net/?p=282</link>
		<comments>http://gussur.net/?p=282#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 12:23:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gussur.net/?p=282</guid>
		<description><![CDATA[Bahagia tidak selalu karena memperoleh sesuatu. Entah barang yang sudah lama kita idam2kan atau keinginan yang terpendam terpenuhi. Bahagia bisa juga karena dari memberi. Seperti cerita seorang teman yang bahagia meski ia kehilangan sesuatu. Saat menggowes ia berpapasan dengan seorang pemuda biasa yang bersepeda juga. Sepeda pemuda itu begitu biasa, teramat biasa dibandingkan sepeda teman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Hjl4G8U3JV8/TCrJFUaCw1I/AAAAAAAAAUs/XdkhjaH2KgY/s1600/tangan+di+atas.jpg" alt="" width="225" height="302" />Bahagia tidak selalu karena memperoleh sesuatu. Entah barang yang sudah lama kita idam2kan atau keinginan yang terpendam terpenuhi. Bahagia bisa juga karena dari memberi. Seperti cerita seorang teman yang bahagia meski ia kehilangan sesuatu. Saat menggowes ia berpapasan dengan seorang pemuda biasa yang bersepeda juga. Sepeda pemuda itu begitu biasa, teramat biasa dibandingkan sepeda teman saya tadi. Awalnya hanya berbasa-basi sampai akhirnya pemuda tadi bertanya di mana bisa membeli lampu kelap-kelip yang teramat bagus di matanya itu.</p>
<p>Teman saya sungkan menjawab sebab pasti pemuda tadi akan terkejut. Dengan sedikit berbohong bahwa ia masih memiliki satu lampu seperti itu, ia pun memberikan lampu tadi ke pemuda tadi. Ia merasa senang melihat pemuda tadi mukanya cerah. Teman saya tadi bilang bahwa bisa jadi dulu mukanya begitu sewaktu ibunya membelikan mainan yang ia idam2kan. Dengan memberi, teman saya tadi merasa bahagia.</p>
<p><span id="more-282"></span>Saya pun merasakan hal yang sama. Hanya saja kali ini saya memberi sesuatu barang yang tidak saya beli. Saya dikasih dan barang itu saya kasih ke teman. Saya sebenarnya berharap sekali memperoleh barang itu, tapi melihat teman saya berkeinginan untuk menjajal bersepeda, ya apa salahnya saya ikut mendukungnya.</p>
<p>Dalam sebuah seminar motivasi, seorang pembicara mengungkapkan kekuatan memberi. Orang yang memberi akan memperoleh imbalan yang berlipat. Entahlah, apakah teman saya tadi berharap imbalan. Saya sendiri yakin ia tidak pernah berharap imbalan. Ia pernah berujar bahwa hidup di dunia ini hanya sementara. Dan kita bukanlah gudang yang mampu menampung semua barang &#8220;keinginan&#8221;. Ia mengibaratkan dirinya sebagai saluran. Dan kebahagiaan saluran adalah jika apa yang lewat dari dirinya mengalir dengan lancar dan sampai di tujuan.</p>
<p>Banyak cerita soal memberi ini yang pada akhirnya membuktikan adanya kekuatan memberi, The Power of Giving. Kalau dikaitkan dengan hukum alam, ya “Giving and Receiving”. Karena memberi di satu pihak berarti menerima di pihak lain. Dua hal itu adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.</p>
<p>Teman saya tadi bahagia karena telah memberi kebahagiaan seorang pemuda (yang menerima pemberian lampu). Bisa saja pemuda tadi sudah lama menginginkan lampu kelap-kelip di belakang demi keselamatannya. Kekuatan memberi (dan menerima) ini demikian dahsyat karena merupakan esensi dari alam semesta itu sendiri. Tidak berlebihan jika Deepak Chopra dalam &#8220;7 Spiritual Law of Success&#8221; mencantumkan “Law of Giving” sebagai hukum kedua untuk sukses. Alam semesta berjalan menurut sirkulasi memberi dan menerima.</p>
<p>Dalam seluruh fenomena alam, berjalan hukum memberi dan menerima. Manusia menghirup oksigen, dan menghembuskan karbon-dioksida, sementara tanaman menggunakan karbon-dioksida dalam proses fotosintesa dan membebaskan oksigen. Proses memberi dan menerima, membuat segala sesuatu di alam semesta ini berjalan, mengalir. Orang-orang zaman dahulu rupanya sangat memahami hal ini. Misalnya uang, alat tukar, dalam bahasa Inggris disebut currency, yang akar katanya adalah bahasa Latin currere yang artinya mengalir.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gussur.net/?feed=rss2&amp;p=282</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tak Ada Salah Pilih</title>
		<link>http://gussur.net/?p=279</link>
		<comments>http://gussur.net/?p=279#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Aug 2010 12:02:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berbagi sari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gussur.net/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Hukum utama di muka Bumi ini adalah kesetimbangan. Kontradiksi akan menciptakan suatu kehidupan. Ada malam ada siang. Ada baik ada buruk. Ada panas ada dingin. Dan seterusnya. Dan sebagainya.
Jika kita merasa salah memilih sesuatu, cobalah untuk melihat dari sisi yang berseberangan. Pasti kita akan menyadari bahwa kita tidak salah. Benar? Belum tentu. Namun setidaknya kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;" src="http://anung.sunan-ampel.ac.id/wp-content/uploads/2010/03/credit-card-03.jpg" alt="" width="272" height="182" />Hukum utama di muka Bumi ini adalah kesetimbangan. Kontradiksi akan menciptakan suatu kehidupan. Ada malam ada siang. Ada baik ada buruk. Ada panas ada dingin. Dan seterusnya. Dan sebagainya.</p>
<p>Jika kita merasa salah memilih sesuatu, cobalah untuk melihat dari sisi yang berseberangan. Pasti kita akan menyadari bahwa kita tidak salah. Benar? Belum tentu. Namun setidaknya kita menjadi bimbang akan kesalahpilihan kita.</p>
<p>Cerita berikut berasal dari seorang teman yang mencoba menerapkan &#8220;melihat dari sisi berseberangan&#8221;.<br />
<span id="more-279"></span><br />
Awalnya tagihan kartu kredit yang biasa2 saja namun ia bermain2. Harusnya dilunasi namun ia enggan karna uangnya dibutuhkan untuk pos lain. Sampai akhirnya prinsip bunga berbunga menjeratnya dan ia baru sadar diperbudak oleh cicilan.</p>
<p>Susah payah ia menata keuangannya dan bersyukur akhirnya bisa lunas. Kapokkah ia menggunakan kartu kredit? Atau seperti teman yg lain sampai menyelotip kartu2 kreditnya sehingga susah dipakai? Tidak juga.</p>
<p>Teman saya itu malah keranjingan menggunakan kartu kredit. Andai semua transaksi bisa dikartukreditkan ia akan menggesek terus kartunya.</p>
<p>Dalam upaya melunasi cicilannya tadi, teman saya melihat ada sisi positif penggunaan kartu kredit. Ya, sistem billing kartu kredit ternyata bisa dimanfaatkan temanku tadi untuk mengontrol pengeluarannya. Bahkan kini ia bisa melakukan copy paste untuk menyusun alur keluar masuknya uang.</p>
<p>Tentu saja, melihat dari sisi lain membutuhkan perubahan sikap yang lain pula. Teman saya itu selalu melunasi setiap tagihan dan menyimpan struk pembayaran kartu kredit di dompetnya. Setidaknya ia memiliki rem dalam mengendalikan nafsu belanjanya dengan melihat dari tumpukan struk pembayaran kartu kreditnya.</p>
<p>Jadi, jangan alergi dg kartu kredit. Meski tak bisa sembarangan gesek menggesek di EDC.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gussur.net/?feed=rss2&amp;p=279</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekonomi Rakyat Berbasiskan Sepeda</title>
		<link>http://gussur.net/?p=275</link>
		<comments>http://gussur.net/?p=275#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jul 2010 11:50:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Pribadi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gussur.net/?p=275</guid>
		<description><![CDATA[Tak bisa dipungkiri bahwa tren sepeda saat ini berhasil mengangkat ekonomi rakyat, meski skalanya kecil dan sporadis. Siapa yang nyangka kalau di JPG ada Mpok Cafe, di Cihuni ada Mpok Aat, di Dago Pakar Bandung ada Warban dengan bandrek susu?
Meski hanya pada hari2 tertentu, warung2 itu laris diburu pesepeda yang baru saja beraktivitas. Warung di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tak bisa dipungkiri bahwa tren sepeda saat ini berhasil mengangkat ekonomi rakyat, meski skalanya kecil dan sporadis. Siapa yang nyangka kalau di JPG ada Mpok Cafe, di Cihuni ada Mpok Aat, di Dago Pakar Bandung ada Warban dengan bandrek susu?</p>
<p>Meski hanya pada hari2 tertentu, warung2 itu laris diburu pesepeda yang baru saja beraktivitas. Warung di sepanjang trek pun tak luput kecipratan rejeki.  Itu baru dari sisi warung dekat trek sepeda. Belum lagi bengkel2 sepeda kelas rakyat. Di dekat tempat tinggalku dulu hanya ada satu bengkel sepeda. Sebenarnya bukan bengkel sepeda murni sebab ia juga melayani perbaikan motornya, khususnya setel pelek.</p>
<p>Namun kini berdiri bengkel sepeda baru yang khusus sepeda. Ini seiring bangkitnya gerakan bersepeda. Karena di kawasan menengah ke bawah, maka sepeda yang ditangani pun bukan kelas jutaan. Sepeda lawas yang diperbarui adalah pangsanya. Saya suka nongkrong sambil bernostalgia melihat sepeda lawas diperbaiki. Ingin membeli salah satu sepeda tapi kok takut disentil anak2 karna dua sepeda saja sudah banyak.</p>
<p>Virus sepeda juga memberi penghidupan beberapa orang yang dulunya tidak punya pekerjaan tetap memperoleh penghasilan tambahan dengan menjadi pendamping rombongan yang akan mencoba trek sepeda. Meski tidak ada tarif pasti, tapi pemandu tersebut merasa senang. Selain bisa menyalurkan hobi bersepedanya, ia juga bisa mendapat tambahan uang.  Jika ditarik ke atas, maka sepeda akan menggerakkan perekonomian skala menengah. Jika pemerintah tak bisa mengantisipasi, serbuan sepeda dari Cina akan meraja lela.</p>
<p>Sekarang ini saja Cina sudah menyerbu pasar sepeda Indonesia dengan frame2 klas menengah berharga puluhan juta. Ceruk yang membesar di kelas menengah ini siapa tahu akan bergeser ke kelas bawah. Dan suatu saat rangka sepeda murah membanjiri Indonesia. Industri kita pun gigit jari.  Jadi, jangan anggap sepele tren bersepeda saat ini. Sanggupkah pemerintah menangkap peluang ini?</p>
<p>Jika di Taiwan ada sepeda bermerek Jakarta, mengapa tidak kita membikin sepeda nasional bermerek Garuda misalnya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gussur.net/?feed=rss2&amp;p=275</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rak Bagasi Urbano</title>
		<link>http://gussur.net/?p=265</link>
		<comments>http://gussur.net/?p=265#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 12:33:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Modifikasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gussur.net/?p=265</guid>
		<description><![CDATA[Rak bagasi asli Urbano terlalu rendah jika digunakan untuk menaruh panier. Dudukannya juga terlalu sempit untuk panier model strap di dasar tas. Ketika dipaksa di pasang, selain posisi panier gak stabil, kaki saat menggowes akan menyenggol tas sehingga kayuhan menjadi tidak leluasa.
Solusi paling gampang ya ganti dengan yang sudah dirancang untuk membawa pannier. Baik yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Rak bagasi asli Urbano terlalu rendah jika digunakan untuk menaruh panier. Dudukannya juga terlalu sempit untuk panier model strap di dasar tas. Ketika dipaksa di pasang, selain posisi panier gak stabil, kaki saat menggowes akan menyenggol tas sehingga kayuhan menjadi tidak leluasa.</em></p>
<div id="attachment_266" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/06/tas-sepeda-001.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-266" title="tas sepeda 001" src="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/06/tas-sepeda-001-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Setelah dicat putih.</p></div>
<p>Solusi paling gampang ya ganti dengan yang sudah dirancang untuk membawa pannier. Baik yang nempel frame atau yang mengait ke seatpost. Cuma harga untuk itu ya lumayan juga.</p>
<p>Cara murah aku tempuh dengan memodifikasi rak bagasi bawaan Urbano.  Aku membawanya ke bengkel tukang las dan bermodalkan besi sisa-sisa seukuran yang sama dengan besi pembuat bagasi bawaan Urbano. Pertama menambah panjang besi pengait rak bagasi ke kaitan di bawah sadel sepanjang sekitar 15 cm. Penyangga rak bagasi  ke kaitan dekat hub pun otomatis perlu digeser ke depan. Penyangga asli menjadi penyangga tambahan. Dudukan yang sempit terpaksa ditambahi dudukan baru agar lebar. Aku sesuaikan saja dengan lebar strap panier milikku.<br />
<span id="more-265"></span><br />
Akhirnya, kelar sudah kerjaan dan memakan waktu tak sampai dua jam. Cuma, krom bawaan jadi amburadul dan terpaksa aku tutup dengan pylox warna putih saja. Tidak sesuai dengan putihnya rangka yang pearl white.</p>
<div id="attachment_267" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/06/rak-sepeda-1.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-267" title="rak sepeda 1" src="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/06/rak-sepeda-1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">dari samping</p></div>
<div id="attachment_268" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/06/rak-sepeda-2.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-268 " title="rak sepeda 2" src="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/06/rak-sepeda-2-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Tatakan baru yang lebih lebar.</p></div>
<p style="text-align: center;">
<p>Ongkos itu semua sekitar Rp 50.000,-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gussur.net/?feed=rss2&amp;p=265</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sepeda Murah Pun Diembat Juga</title>
		<link>http://gussur.net/?p=262</link>
		<comments>http://gussur.net/?p=262#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 10:02:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sepedaan]]></category>
		<category><![CDATA[b2w]]></category>
		<category><![CDATA[bike to campus]]></category>
		<category><![CDATA[bmx]]></category>
		<category><![CDATA[nite ride]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gussur.net/?p=262</guid>
		<description><![CDATA[Sewaktu acara gowes bareng teman2 ke Bogor, di jalan saya bertemu dengan goweser dari Ciputat. Dia sendirian dan saya berada di barisan belakang rombongan alias jadi &#8220;penyapu&#8221;. Kami pun mengobrol sepanjang perjalanan (selama bisa).
Kebetulan goweser tadi, sebut Ipin &#8211; duh kok belum nanya nama aku, tapi apalah arti nama &#8216;kan &#8211; mau ke Ciawi. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Sewaktu acara gowes bareng teman2 ke Bogor, di jalan saya bertemu dengan goweser dari Ciputat. Dia sendirian dan saya berada di barisan belakang rombongan alias jadi &#8220;penyapu&#8221;. Kami pun mengobrol sepanjang perjalanan (selama bisa).</em></p>
<div id="attachment_263" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/05/Bmx_Freestyle_Bicycle.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-263" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;" title="Bmx_Freestyle_Bicycle" src="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/05/Bmx_Freestyle_Bicycle-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">sumber: wordpress.com</p></div>
<p style="text-align: left;">Kebetulan goweser tadi, sebut Ipin &#8211; duh kok belum nanya nama aku, tapi apalah arti nama &#8216;kan &#8211; mau ke Ciawi. Saya dan teman2 mau ke Bogor, tepatnya Semplak. Dan inilah enaknya gowes, kita bisa ngobrol lebih leluasa.</p>
<p style="text-align: left;">Ipin tadi ternyata mahasiswa sebuah perguruan tinggi top di Ciputat. Dia belum lama gowesnya. Lagi-lagi saya tidak memperjelas seberapa lama belum lamanya itu. Toh bukan masalah penting bagiku. Mau belum lamanya itu sebulan atau setahun toh tetap saja sekarang ini dia sudah aktif menggowes.</p>
<p><span id="more-262"></span><br />
Selain rutin bersepeda saat Hari Bebas Kendaraan (CFD), Ipin rutin bersepeda ke kampusnya dari rumah kontrakannya. Tak jauh memang, tapi cukup meletihkan jika harus jalan kaki. Ipin ini aslinya dari Tasikmalaya dan saat liburan sekolah nanti dia berniat mudik menggowes. Salut! &#8220;Makanya, sekarang ini saya lagi rutin latihan menggowes jarak jauh,&#8221; katanya.</p>
<p>Ada cerita sedih yang membuat saya tergerak untuk menulis catatan ini. Alkisah, sebelum memiliki sepeda Polygon yang saat itu dipakai ke Cisarua (saya lupa seri apa sepeda Polygonnya. yang jelas model sepeda gunung) Ipin bersepeda ke kampus menggunakan sepeda BMX.  Ya, sepeda BMX yang dia beli dari toko sepeda biasa saja seharga Rp 50.000,-. Jika ingin mengikuti fun bike atau CFD terpaksa ia pinjam sepeda ke temannya yang tidak dipakai.</p>
<p>Sampai akhirnya sepeda BMX itu hilang dicuri. Ya, hilang dicuri. Ipin pun seperti kehilangan hidup. Beruntung tak lama ia memperoleh rezeki dan bisa meminang si Poly.</p>
<p>Dari cerita sepanjang jalan itu, ternyata banyak teman-temannya yang berniat gowes cuma terhalang soal dana. Beberapa sudah diracuni oleh Ipin dan menyisihkan sebagian uang jajan mereka untuk membeli sepeda. Mereka pun rutin ber-bike to campus dan mengikuti kegiatan sepedaan seperti <em>fun bike</em> atau kelap-kelip (<em>nite ride</em> yang dikoordinasi oleh komunitas b2w).</p>
<p>Saya tidak tahu apakah sudah ada gerakan memberi sepeda ke mahasiswa seperti gerakan serupa untuk anak sekolah di daerah. Polygon memang punya program serupa namun untuk mahasiswa berprestasi. Bagaimanan dengan mahasiswa yang tidak berprestasi? Padahal mereka ingin gowes juga?</p>
<p>&#8220;Sekarang parkiran sepeda motor sudah ke mana-mana. Kami ingin sebagian yang terparkir itu adalah sepeda. Saya yakin kalau banyak yang menggunakan sepeda parkiran gak akan seamburadul sekarang.&#8221; Kira2 begitulah yang diharapkan Ipin.</p>
<p>Ayo, kita dukung <em>bike to campus</em>!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gussur.net/?feed=rss2&amp;p=262</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mini Velo, Kecil-kecil Cabai Rawit</title>
		<link>http://gussur.net/?p=255</link>
		<comments>http://gussur.net/?p=255#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 May 2010 04:49:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tes gowes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gussur.net/?p=255</guid>
		<description><![CDATA[Dapat pinjaman mini velo Red Element, akhirnya dicoba untuk b2w dan b2h. Meski ukurannya kurang pas, namun sepeda ini lincah untuk bermanuver di kemacetan.
Sepeda dengan ukuran ban 20&#8243; ini mirip sepeda lipat Urbanoku. Hanya lebih kokoh karena ini bukan sepeda lipat. Konstruksinya lebih ke sepeda mini. Hanya saja masih kurang ergonomis untuk tinggi sekitar 173 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Dapat pinjaman mini velo Red Element, akhirnya dicoba untuk b2w dan b2h. Meski ukurannya kurang pas, namun sepeda ini lincah untuk bermanuver di kemacetan.</em></p>
<p><a href="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/05/resize-element-004.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-257" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;" title="resize-element-004" src="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/05/resize-element-004-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a>Sepeda dengan ukuran ban 20&#8243; ini mirip sepeda lipat Urbanoku. Hanya lebih kokoh karena ini bukan sepeda lipat. Konstruksinya lebih ke sepeda mini. Hanya saja masih kurang ergonomis untuk tinggi sekitar 173 cm. Agak membungkuk.</p>
<p>Pertama kali menjajal agak labil mengendarai Red Element ini. Setang yang lebar dan posisi menunduk menjadi faktor penyebab. Namun setelah mencoba beberapa waktu, penguasaan sepeda akan segera terbentuk. Dan sepertinya naik velo ini adrenalin langsung memuncak dan ingin memacunya sekencang-kencangnya.<br />
<span id="more-255"></span><br />
Bobotnya yang ringan membantu dalam melajukan sepeda ini. Kekokohannya membuat pede untuk menerabas jalan sedikit rusak. Ini sangat berbeda dengan mengendarai sepeda lipat yang selalu waswas dengan lipatan setangnya. Apalagi porok depan lurus.</p>
<p>Untuk melakukan manuver pun sangat enak. Bahkan saat menyusuri Jl TB Simatupang dari perempatan Lebakbulus sampai jalan layang Pasarminggu saya pede saja berlari di sela-sela motor dan kendaraan roda empat yang melaju pada sekitar pukul 21.00 di suatu Jumat bulan Mei 2010.</p>
<p>Sayangnya, saya tidak cukup waktu untuk melihat merek-merek komponen yang melekat di Red Element ini. Yang jelas groupsetnya Shimano. Satu kekurangan menurutku remnya terlalu keras. Juga pedalnya kurang oke.</p>
<p>Selebihnya oke!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gussur.net/?feed=rss2&amp;p=255</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tambal Ban di Warteg</title>
		<link>http://gussur.net/?p=249</link>
		<comments>http://gussur.net/?p=249#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 07:52:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berbagi sari]]></category>
		<category><![CDATA[Sepedaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gussur.net/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Tahu-tahu saja ban belakang seliku kempes. Bongkar peralatan tambal ban, waduh &#8230; ternyata congkel bannya sudah patah. Tanya-tanya ke orang yang ada, tukang tambal ban lumayan jauh. Aha &#8230; untung ada warteg.
Saya pun bergegas ke warteg dan mendekati penjaga warung lalu mengungkapkan maksudku. Awalnya diberi sendok yang model baru, yang super duper tipis itu. Setelah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Tahu-tahu saja ban belakang seliku kempes. Bongkar peralatan tambal ban, waduh &#8230; ternyata congkel bannya sudah patah. Tanya-tanya ke orang yang ada, tukang tambal ban lumayan jauh. Aha &#8230; untung ada warteg.</em></p>
<div id="attachment_250" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/05/sendok-arima07_wordpress_com.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-250 " style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;" title="sendok-arima07_wordpress_com" src="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/05/sendok-arima07_wordpress_com-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">sumber: arima07.wordpress.com</p></div>
<p>Saya pun bergegas ke warteg dan mendekati penjaga warung lalu mengungkapkan maksudku. Awalnya diberi sendok yang model baru, yang super duper tipis itu. Setelah ngubek2 di tempat menaruh sendok dan piring akhirnya ketemulah dua sendok lawas yang gagangnya tebal.</p>
<p>Segera aku balikkan seli dan nyopot ban belakang. Olala &#8230; ternyata susah juga meski hub belakang sudah aku ganti dengan hub quick release. Pasalnya, aku sudah tambahi sprocket-nya dari enam menjadi delapan. Ternyata memang aslinya dipatenkan di enam dan jika dipasang lebih kudu <em>mbenggang</em> (diregangkan). Alhasil, keringat pun bercucuran di pagi menjelang siang itu.</p>
<p>Setelah terbongkar langsung aku keluarkan dan masalah lagi mencari lubang penyebab ban kempes. Begitu dipompa langsung kempes. Wah, berarti lubangnya besar. Terpaksa ke warteg lagi dan nebeng mencari lubang bocor ban di tempat cuci piring. Akhirnya ketemu. Ternyata besar juga dan beruntung cuma satu lubang.<br />
<span id="more-249"></span><br />
Setelah mengampelas sekitar lubang dan mengelemnya, aku pun mencari batu buat menindih tambalan biar makin lengket. Sambil menunggu aku pun ngaso di Warteg sambil minum es teh manis.</p>
<p>Dirasa sudah cukup aku pun segera memasang ban dalam dan memompanya. Pas mau memasang ke rangka sepeda, ternyata susah karena harus <em>mbenggang</em> rangka. Dengan susah payah akhirnya masuk juga. Aku pun segera ngacir sambil tak lupa mengembalikan sendok sembari berucap seribu terima kasih.</p>
<p>Jadi, ban kempes, mampirlah ke Warteg hehe &#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gussur.net/?feed=rss2&amp;p=249</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>JPG Race, Lomba Sepeda Pertamaku</title>
		<link>http://gussur.net/?p=242</link>
		<comments>http://gussur.net/?p=242#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Apr 2010 07:53:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gowesanku]]></category>
		<category><![CDATA[JPG Race]]></category>
		<category><![CDATA[KGC]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Kota 2]]></category>
		<category><![CDATA[Tamkot2]]></category>
		<category><![CDATA[XC]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gussur.net/?p=242</guid>
		<description><![CDATA[Setelah lama main sepeda, gatal juga kaki ini untuk ikut lomba. Akhirnya, kesampaian juga pada tanggal 11 April 2010 ikut JPG Mountain Bike XC Race di Taman Kota 2, BSD.
Saya ikut mendaftar di kelas Master B (kategori umur 40 &#8211; 45 th). Trek Taman Kota 2 (Tamkot 2) termasuk trek baru yang dibikin memang untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Setelah lama main sepeda, gatal juga kaki ini untuk ikut lomba. Akhirnya, kesampaian juga pada tanggal 11 April 2010 ikut JPG Mountain Bike XC Race di Taman Kota 2, BSD.</em></p>
<div id="attachment_243" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/04/jpg-race1.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-243 " style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;" title="jpg race1" src="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/04/jpg-race1-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">foto: yusri</p></div>
<p>Saya ikut mendaftar di kelas Master B (kategori umur 40 &#8211; 45 th). <a title="Trek Taman Kota 2" href="http://www.everytrail.com/view_trip.php?trip_id=564823" target="_blank">Trek Taman Kota 2</a> (Tamkot 2) termasuk trek baru yang dibikin memang untuk lomba.  Selasa 6/4/2010 saya bersama Martin mencoba menjajal trek itu. Ditemani Pak Jimmy yang membikin trek, saya langsung keder dengan trek yang ada. Butuh teknik yang mumpuni untuk bisa menaklukkan beberapa turunan dan tanjakan yang ada di trek ini.</p>
<p>Berbekal sekali jajal itu saya pun memberanikan diri ikut lomba. Saat rooling all ada sekitar 38 peserta untuk Master B. Saya memperoleh nomer urut 341, dan berada di urutan belakang saat start. Melihat lawan yang sudah lama malang melintang di lomba saya pun santai saja. Target asal finish. Sebelumnya menargetkan 10 besar. Mimpi kali ye &#8230;. Apalagi untuk Master B kudu 3 lap.<br />
<span id="more-242"></span><br />
Begitu bendera start dikibarkan saya mencoba merangsek ke depan. Sekitar 50 m dari start adalah saat-saat bisa menyalip dengan leluasa sebelum masuk single track. Namun melihat kerumunan peserta dan baru pertama kali ikut sehingga grogi maka saya cuma bisa masuk ke barisan pertengahan sebelum masuk single track.</p>
<p>Masuk single track menyisir sungai lalu turunan tajam melewati jembatan bambu terjadi musibah. Seorang peserta yang berada dua di depanku tercebur dan membuat arus peserta terhenti.  Dari wajahnya mengucur darah segar. Setelah ditolong, peserta di depanku persis mencoba menuruni tanjakan itu dan terjatuh juga. Hanya ia tidak tercebur ke sungai. Saya pun menjadi hati-hati dan melihat ada lubang yang cukup dalam di dasar turunan. Jika tidak hati-hati ban depan bisa terperosok dan membuat laju sepeda susah dikendalikan.</p>
<p>Sukses melewati jembatan dan akhirnya tanjakan memasuki taman saya pun diteriaki &#8220;trek&#8221;. Pertanda ada yang di belakang yang ingin menyalip. Ya sudah saya pun minggir dan memberi kesempatan peserta di belakang lewat. Di depan ada tanjakan yang cukup terjal.</p>
<div id="attachment_244" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a href="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/04/jpg-race2.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-244" title="jpg race2" src="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/04/jpg-race2-150x150.jpg" alt="" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">foto: yusri</p></div>
<p>Dengan mengatur napas dan tenaga saya pun mulai menikmati lomba. Semua turunan bisa aku lalui dan beberapa tanjakan menyerah. Terpaksa TTB deh, terutama di turunan yoyok. Di tanjakan bambu saya dua kali TTB gara-gara peserta di depan saya berhenti tak kuat menggowes padahal tanjakan itu menikung. Aku hajar saja ban belakangnya dengan ban depanku. Kali kedua aku mencoba mengambil jalur kanan, ternyata malah terperosok ke rumpun bambu.</p>
<p>Beberapa kali minta jalur akhirnya napasku seperti habis di lap ke-2. Peserta di depan sudah jauh dan di belakang juga tidak terlihat. Sesekali bidon aku ambil untuk membasahi kerongkongan. Berharap ada rekan di feeding zone ternyata sia2 hehe&#8230; Ya sudah, terpaksa berhenti di area yang aman dan minum sepuasnya.</p>
<p>Lap ketiga sudah seperti di awang-awang saja. Napas sudah memburu, jantung mau copot, dan dengkul gemeteran. Nanjak TTB pun nyaris tak kuat. Mana telepon berdering-dering terus.</p>
<p>Dengan susah payah akhirnya sampai juga melihat chequered flag berkibar hehe&#8230;  &#8220;Nomer 17 Sur,&#8221; kata Yusri yang menjadi peliput tim KGC. Ya, lumayanlah. Berarti ada di tengah2 dari seluruh peserta.</p>
<p>Semoga di lomba berikutnya sudah bisa mengatur irama napas dan tenaga.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gussur.net/?feed=rss2&amp;p=242</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fixie, Racun Baru Yang Seksi</title>
		<link>http://gussur.net/?p=238</link>
		<comments>http://gussur.net/?p=238#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 09:41:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Lepas]]></category>
		<category><![CDATA[Sepedaan]]></category>
		<category><![CDATA[doltrap]]></category>
		<category><![CDATA[fixed gear]]></category>
		<category><![CDATA[fixie]]></category>
		<category><![CDATA[single speed]]></category>
		<category><![CDATA[torpedo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gussur.net/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Setelah sepeda lipat, dunia persepedaan kini dihinggapi virus fixie (fixed gear). Mengikuti jejak gerakan kembali ke alam, fixie pun mengajak pesepeda untuk kembali ke awal mula sepeda. Sederhana dan minimalis.
Bentuknya yang minimalis dan warna ngejreng membuatnya tampak seksi. Tak ada lilitan kabel berjubel layaknya sepeda masa kini. Kalaupun ada kabel, itu hanya untuk rem depan. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em>Setelah sepeda lipat, dunia persepedaan kini dihinggapi virus fixie (</em>fixed gear<em>). Mengikuti jejak gerakan kembali ke alam, fixie pun mengajak pesepeda untuk kembali ke awal mula sepeda. Sederhana dan minimalis.</em></p>
<p><a href="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/04/fixie-1.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-239" style="margin-left: 5px; margin-right: 5px;" title="fixie 1" src="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/04/fixie-1-150x150.jpg" alt="INTISARI/Ibas" width="150" height="150" /></a>Bentuknya yang minimalis dan warna ngejreng membuatnya tampak seksi. Tak ada lilitan kabel berjubel layaknya sepeda masa kini. Kalaupun ada kabel, itu hanya untuk rem depan. Begitu juga dengan gir di depan atau belakang cuma ada satu lingkaran. Lalu, bagaimana menghentikan laju sepeda ini jika tidak ada rem? Karena girnya dibuat mati (<em>fixed</em>) yang berarti pedal berputar mengikuti putaran as roda belakang, maka untuk menghentikan laju sepeda ini cukup dengan memutar pedal ke belakang.<br />
<span id="more-238"></span><br />
Bentuk gir yang mati itulah yang membedakan fixie dengan sepeda pada umumnya. Bahkan dengan sepeda satu kecepatan atau <em>single speed</em> yang secara fisik mirip. Ada yang mengacaukan antara <em>single speed</em> dengan fixie. Fixie bisa masuk kelompok sepeda <em>single speed</em>, tapi sepeda <em>single speed</em> belum tentu sepeda fixie. Begitupun fixie belum tentu <em>single speed</em>. Soalnya ada juga fixie yang <em>multi speed</em> menggunakan internal hub (<em>Intisari</em> Maret 2010).</p>
<p>Memang, kebanyakan fixie adalah <em>single speed</em>. Bingung? Jika Anda jeli saat bersepeda di &#8220;Hari Bebas Kendaraan&#8221; di Jakarta atau kota-kota lain, jenis sepeda seperti ini mulai banyak bermunculan. Di Jakarta sendiri saat &#8220;Hari Bebas Kendaraan&#8221; itu, kelompok penunggang fixie ini akan berkumpul di seputaran Bundaran HI sebelum gowes bareng. Sedangkan pada Rabu malam mereka akan kumpul bersama di Taman Menteng.</p>
<p><strong>Pasang rem depan</strong><br />
Salah satu ciri sepeda fixie memang pada pedal yang tidak bisa digerakkan mundur dengan leluasa saat melaju. Soalnya, gir &#8220;diikat&#8221; secara mati ke as roda (<em>hub</em>) belakang. Jadi, seberapa kencang <em>hub</em> berputar, ya segitu juga kencangnya pedal berputar. Untuk menghentikan laju sepeda ya tinggal menekan pedal ke belakang alias melawan putaran kayuhan. Susah? Akan lebih susah lagi manakala sepeda melaju di turunan sebab butuh tenaga yang besar untuk melawan putaran pedal.</p>
<p>Sepeda fixie yang menjamur saat ini berawal dari sepeda lintasan (<em>track bike</em>) yang digunakan di velodrome. Di Inggris, sekitar tahun 1950-an, sepeda fixie digunakan para atlet sepeda <em>time trial</em> untuk melatih kayuhan karena sifat pedal sepeda fixie yang terus berputar. Kepopuleran sepeda fixie memudar ketika menjamurnya sepeda dengan banyak gir yang dapat mengakomodasi kenyamanan bersepeda di tahun 1960-an.</p>
<p>Pertengahan tahun 2000-an, fixie mulai naik ke permukaan, khususnya di perkotaan wilayah Amerika Utara. Populernya fixie dikaitkan dengan sepeda &#8220;pak pos&#8221; (<em>messenger bike</em>). Di perkotaan, mengantar dokumen menjadi persoalan terkait dengan kemacetan dan biaya parkir yang tinggi. Dengan sepeda, kemacetan bisa di-<em>trabas</em> dan tidak butuh biaya parkir.</p>
<p>Seperti disinggung di atas, kebanyakan gir fixie adalah tunggal. Namun ada juga pabrikan yang membuat sepeda fixie dengan banyak gir alias banyak kecepatan. Sturmey Archer misalnya. Di samping itu, beberapa sepeda fixie menggunakan dua gir di setiap sisi <em>hub</em> belakang, yang membuat pengendara memiliki dua pilihan perbandingan gir depan dan belakang. (Perbandingan gir ini akan menentukan kecepatan laju dan juga berat ringannya kayuhan saat sepeda melaju. Semakin besar gir depan dan semakin kecil gir belakang maka sepeda akan cepat melaju namun kayuhan menjadi berat).</p>
<p><em>Hub</em> seperti itu ada yang memiliki gir mati di dua sisinya (<em>double-fixed</em>) atau gir mati di satu sisi dan gir hidup (<em>freewheel</em>) di sisi lain. Kombinasi terakhir ini disebut dengan <em>hub flip-flop</em>. Jika capai dengan gir mati, tinggal membalik ban belakang jadilah sepeda satu kecepatan.</p>
<p>Lalu, apa alasan orang menggowes sepeda fixie? Ada banyak tentunya. Bobotnya yang enteng, kesederhanaan, dan perawatan yang mudah adalah beberapa contoh alasan. Seperti yang diakui oleh Fredy, yang ikut-ikutan membangun fixie meski ternyata salah (lihat boks: &#8220;Antara &#8216;Doltrap&#8217; dan Torpedo&#8221;). &#8220;Simpel dan mudah perawatannya,&#8221; begitu katanya.</p>
<p>Meski hanya memiliki satu gir, bobotnya yang ringan bisa menjadi kompensasi sehingga bisa melaju dengan kencang juga. Hanya saja, yang butuh perhatian saat menggowes fixie adalah pas turunan dan berbelok. Karena pedal berputar terus, bisa dibayangkan kalau pas berbelok ke kiri misalnya, posisi pedal kiri ada di bawah. Pedal yang nyangkut ke tanah bisa mengakibatkan celaka pengendaranya.</p>
<p>Untuk mengatasi turunan, mau tak mau harus memasang rem. Kecuali sudah jago banget. Soal rem ini sempat menjadi &#8220;pembicaraan sengit&#8221; di sebuah forum maya. Rem mana yang dipasang, alangkah baiknya kalau rem depan. Mengapa? Sebelum membaca jawaban pertanyaan ini, cobalah perhatikan kendaraan di sekitar kita. Motor misalnya, jika memiliki satu rem cakram bawaan pabrik pasti dipasang di roda depan. Begitu juga dengan mobil. Rem cakram ditaruh di depan sementara untuk roda belakang hanya digunakan rem tromol atau rem drum; dan kita tahu rem cakram lebih &#8220;menggigit&#8221; dibandingkan dengan rem tromol.</p>
<p>Saat kita mengerem sebuah kendaraan yang sedang melaju, titik gravitasi kendaraan itu akan berpindah ke depan. Hal ini bisa dirasakan saat kita di dalam kendaraan yang direm mendadak, tubuh kita akan terdorong ke depan. Akibat berpindahnya titik gravitasi itu, maka roda bagian belakang terangkat. Untuk kendaraan berat tentu tidak kentara. Berbeda dengan sepeda.</p>
<p>Nah, apa gunanya mengerem roda belakang yang kehilangan daya gigit ke permukaan? Dengan mengerem laju roda depan, maka kendaraan pun akan lebih cepat berhenti. Kalaupun ada rem belakang, maka porsi pengereman pun tetap lebih banyak untuk rem depan. Ada yang menggunakan rumus 75-25 (75% pengereman roda depan, dan 25% roda belakang) atau 60-40 (60% rem depan, 40% rem belakang).</p>
<p>Di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, maupun Australia, setiap sepeda wajib memiliki rem jika digunakan di jalan raya.</p>
<p><strong>Hati-hati, dengkul bisa cedera<br />
</strong>Untuk memperoleh sepeda fixie kita bisa beli jadi atau membangun sendiri. Masing-masing ada plus-minusnya. Beli jadi selain mahal belum tentu sesuai selera. Sementara kalau membangun sendiri biaya bisa kita kontrol, asal sedikit sabar dalam berburu komponen-komponennya.</p>
<p>Kalau mau lebih murah lagi menggunakan komponen-komponen bekas. Hampir semua teman saya yang membangun sepeda fixie menggunakan <em>frame</em> (rangka sepeda) lawas.<br />
Karena sepeda fixie lebih ditentukan pada sistem penggeraknya, maka tak ada rumus baku untuk rangka fixie.</p>
<p>Maksudnya mau menggunakan rangka balap silakan, mau rangka sepeda gunung (MTB) boleh. Bahkan ada yang memodifikasi dari rangka sepeda ceper (<em>low rider</em>). Berbeda dengan jenis sepeda lainnya yang justru perbedaannya terletak pada rangka sepeda. Rangka sepeda gunung tentu berbeda dengan rangka sepeda balap, misalnya. Bahkan ada bengkel yang siap membikinkan rangka fixie dari besi. Berat memang.</p>
<p>Bagi yang ingin membangun sendiri fixie-nya, ada baiknya menyimak acuan yang disampaikan oleh Rangga Panji (moderator forum &#8220;Singlespeed dan Fixie&#8221; <em>sepedaku.com</em>) di situs <em>hai-online.com</em>. Acuan itu ada tiga: ringan, kuat, dan murah. Sayangnya, kita hanya bisa memilih dua dari tiga kata tadi. Kalau memilih kuat namun ringan, jatuhnya akan mahal alias tidak murah. Atau kalau memilih kuat tapi murah, sudah pasti enggak enteng. Mau enteng dan murah, ya tidak kuat. Pilihan kembali kepada Anda dan Mbak Dana (maksudnya uang yang tersedia).</p>
<p>Pada beberapa kasus, rangka bekas tadi tidak dipertahankan utuh. Banyak yang merekacipta lagi sehingga bentuknya lebih bagus. Seperti <em>toptube</em> (<em>planthangan</em> kalau orang Jawa bilang) yang dibikin pipih, tidak membulat seperti aslinya. Agar tampil menarik, warna-warna centil pun dibalurkan ke tubuh fixie. Bahkan rantai dan jari-jari pun sekarang sudah ada yang menyediakan dalam warna tak umum. Ada yang warna kuning, merah, hijau, atau biru. Jika tidak ada yang sesuai, ya langsung dicat saja sekalian bersama rangkanya. Biar senada dengan komponen lainnya.</p>
<p>Semaraknya sepeda fixie bisa dilihat di salah satu bengkel yang berada di bilangan Kebayoranlama, Jakarta Selatan. Bengkel yang dulunya menangani pengecatan motor Vespa dan pembuatan pagar besi itu kini kebanjiran order membikin sepeda fixie. Pemilik bengkel mengakui banyak order merakit fixie sampai butuh waktu semingguan sampai orderan kita selesai dikerjakan.</p>
<p>Tak hanya mengecat ulang dan membikin fork ala fixie. Merombak total sebuah rangka pun dikerjakan. Bahkan sebuah rangka Federal lama dipotong bagian <em>top tube</em>, <em>down tube</em>, dan <em>seat tube</em> (bagian segitiga depan) dan diganti dengan besi pipih. Rangka asli hanya tersisa di bagian belakang yang menjadi dudukan roda belakang. Kesannya menjadi kekar.</p>
<p>Jika fixie sudah jadi atau terbeli, saatnya menggowes. Pertama tentunya kagok sebab kaki tidak bisa istirahat mengayuh. Mengerem dengan melawan putaran pedal juga bukan perkara mudah. Butuh fisik dan dengkul yang kuat buat <em>ngerem</em> sepeda fixie. Jika sudah mahir, fixie bisa dihentikan dengan model selip (<em>skid stop</em>). Yang jelas, kudu diingat bahwa mengerem menggunakan kaki bisa menyebabkan dengkul cedera. Jangan sampai mau gaya tapi malah celaka!</p>
<p>Siap ber-fixie?</p>
<table width="80%" align="center" bgcolor="grey">
<tbody>
<tr>
<td>Antara &#8220;Doltrap&#8221; dan Torpedo</p>
<p>&#8220;Doltrap&#8221; (bahasa Belanda doortrap) dan torpedo sering dikacaukan saat berbicara sepeda fixie. Sama-sama menggunakan kaki untuk menghentikan laju sepeda, torpedo lebih &#8220;manusiawi&#8221; dibandingkan dengan &#8220;doltrap&#8221;. Soalnya pada torpedo pedal tidak berputar terus seiring dengan putaran as roda belakang. &#8220;Doltrap&#8221; inilah yang dimaksud dengan sepeda fixie dan umum digunakan pada kendaraan becak.</p>
<p>Jika &#8220;doltrap&#8221; pedal berputar seirama dengan as roda belakang, tidak begitu dengan sistem torpedo. Torpedo masih bisa jeda mengayuhnya meski as roda belakang berputar. Hanya saja, ketika pedal dikayuh ke belakang, sekitar tiga kampas rem yang berada di dekat silinder jari-jari akan mengembang sehingga laju sepeda pun melambat. Torpedo disebut juga rem kaki karena untuk memperlambat laju sepeda menggunakan kaki. Sebenarnya ini nama merek, berhubung sudah begitu terkenal menjadi nama generik untuk rem kaki. Ya mirip dengan kodak untuk menyebut kamera.</p>
<p>Sepintas, sepeda <em>single speed</em> yang menggunakan sistem torpedo mirip dengan fixie. Setelah dikayuh baru ketahuan mana yang fixie. Hal inilah yang dialami Fredy. Merasa membangun sepeda fixie ternyata sepeda <em>single speed</em> yang terbentuk.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gussur.net/?feed=rss2&amp;p=238</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memperbarui SIM di Depok</title>
		<link>http://gussur.net/?p=233</link>
		<comments>http://gussur.net/?p=233#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 10:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Catatan Pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[perpanjangan SIM]]></category>
		<category><![CDATA[Polres Depok]]></category>
		<category><![CDATA[SIM A]]></category>
		<category><![CDATA[SIM C]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://gussur.net/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Kalau memperpanjang teman saya iseng, &#8220;Bawa saja ke Mak Erot!&#8221; Makanya, saya memberi judul &#8220;memperbarui&#8221;. Karena memang SIM jadi baru lagi. Ini kali kedua memperbarui SIM di Depok.
Dulu, saya sempat tergelincir oleh calo. Gara-garanya tes kesehatan yang semau mereka. Ngujinya (tes mata) tidak serius. Terus ruangannya juga remang-remang sehingga huruf yang suruh ditebak tidak jelas. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><em><strong>Kalau memperpanjang teman saya iseng, &#8220;Bawa saja ke Mak Erot!&#8221; Makanya, saya memberi judul &#8220;memperbarui&#8221;. Karena memang SIM jadi baru lagi. Ini kali kedua memperbarui SIM di Depok.</strong></em></p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-234" title="logo-polisi" src="http://gussur.net/wp-content/uploads/2010/03/logo-polisi.jpg" alt="logo-polisi" width="114" height="90" />Dulu, saya sempat tergelincir oleh calo. Gara-garanya tes kesehatan yang semau mereka. Ngujinya (tes mata) tidak serius. Terus ruangannya juga remang-remang sehingga huruf yang suruh ditebak tidak jelas. Aku ragu-ragu menjawabnya langsung diberi keterangan tidak lulus. Protes malah dicuekin. Ujung-ujungnya minta &#8220;uang lulus&#8221;.</p>
<p>Dari tes kesehatan lalu aku menuju loket pendaftaran. Saat mengisi formulir yang saya peroleh setelah membayar formulir dan asuransi, tiba2 ada polisi yang memanggil dari dalam ruangan. Intinya mau membantu mengurangi antrian hehe &#8230;. Karena harga yang ditawarkan masuk dinalar, ya sudah. Aku embat deh. Saya agak lupa habis berapa waktu itu. Yang jelas tidak berbeda jauh dengan biaya normal.<br />
<span id="more-233"></span><br />
Kali kedua agak pede untuk siap menampik &#8220;bantuan&#8221;. Begitu parkir motor, langsung jalan menuju ke tempat pembuatan SIM. Sempat ada seorang polisi yang bertanya mau ke mana. Yah, masih ada juga calo to.</p>
<p>Kali ini ternyata tes kesehatan sudah diserahkan ke pihak luar. Baguslah. Cuma sayang informasinya aku cari2 tidak ada. Jadi, tes kesehatan sekarang dilakukan di sebuah klinik di seberang Polres Depok (di belakang Restoran AW, ruko no. 32). Bagusnya mereka kerja dengan serius. Saya pun tidak perlu protes gara2 ngujinya asal2an. Untuk perbaruan dua SIM kena Rp 30.000,-. Yang dites tekanan darah dan kesehatan mata.</p>
<p>Selesai tes kesehatan balik ke loket pembuatan SIM dan membeli formulir dua SIM. Biaya untuk formulir perpanjangan Rp 60.000,-. Sedangkan untuk pembuatan SIM baru Rp 75.000,-. Dari sini membeli asuransi @ Rp 30.000,-. Tuntas mengisi dua formulir lalu menuju ke Loket Pendaftaran. Sekadar informasi, loket buka dari pukul 08.00 &#8211; 12.00. Jadi, datanglah pagi biar tidak kecewa.</p>
<p>Tak ada polisi yang menawarkan bantuan di sini. Ruang yang dulu dipakai oleh pak polisi untuk memanggilku sekarang menjadi Ruang Teori dan Praktik. Sekitar setengah jam kemudian namaku dipanggil untuk sesi pemotretan. Wah, cepet juga nih. Selama menunggu pemotretan namaku sempat dipanggil untuk mengambil kartu asuransi. Sayang, baru SIM C yang selesai.</p>
<p>Nah, kartu asuransi itu yang membuatku lama menunggu. Entah keselip atau bagaimana, kartu asuransi untuk SIM A belum tercetak. Alhasil harus menunggu dicetak lalu dilaminating. Untuk memperbarui SIM sendiri, mulai datang sampai ambil SIM sekitar 1,5 jam. Termasuk cepat menurutku prosesnya sebab untuk jalan ke tempat tes kesehatan saja butuh setengah jam bolak-balik.</p>
<p>Bagusnya, calo tidak berkeliaran lagi. Bravo Polri &#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://gussur.net/?feed=rss2&amp;p=233</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
