agus sur – another side of …


December 24, 2008

Rindu Alam, Seberapa Stabil Keseimbangan Anda …

Category: Gowesanku – Tags: , , , , – admin – 10:08 am

Pertama kali mencoba trek Rindu Alam, satu hal langsung tersimpan di memori. Ini buat latihan megang setang! Ada turunan berbatu yang membuat tangan bergetar, ada turunan saluran air yang bikin tubuh menjaga keseimbangan, ada turunan rumput yang membuat harus berhati-hati siapa tahu bertemu lubang, ada turunan di sela-sela ilalang yang menyesal tidak menggunakan sarung tangan full dan celana panjang, dan terakhir … ada turunan aspal yang bisa disambi menyenandungkan I believe I can fly dengan tangan terentang.

Enaknya gowes di trek Rindu Alam adalah kita tidak terbelenggu oleh waktu untuk memulai. Ya, hawa dingin yang terkadang ditingkahi kabut membuat suhu tidak berpengaruh dengan aktivitas gowes. Bahkan ada beberapa goweser yang menggunakan jaket antiangin atau memakai baju eh … kaos dobel plus singlet. Separo perjalanan dijamin tidak direpotkan oleh keringat.

Setelah tiba di Gadog sekitar pukul 7.20 dan langsung memmasukkan sepeda ke angkot, rombongan KGC – saya, Lanu, Fa, AH, Didit, Dimas – langsung menuju ke titik awal di Rindu Alam (sonoan dikit). Terjebak macet sebelum Pasar Cisarua akhirnya tiba di titik awal pukul 8.10. Sempat terjadi insiden kecil ketika quick release-nya Dimas copot. Terpaksa nyari mur di toko bangunan yang buka.

Berhubung gowes di sini tidak dibatasi waktu, maka kami pun santai sambil sarapan. “Di sini mah kudu sarapan. Soalnya di perjalanan tidak ada makan siang,” begitu kata AH. Kami pun sarapan nasi goreng dan segelas teh anget.

Sekitar pukul 09.00 rombongan KGC akhirnya berangkat dari titik awal, warung pertama di pinggir jalan sebelah kanan selepas perbatasan Bogor – Cianjur dari arah Ciawi. Turunan batu menjadi pemula trek RA ini, sebelum akhirnya membayar biaya masuk trek. Tak ada yang perlu dikhawatirkan pada etape pertama ini. Kami sempat berfoto dengan latar belakang pohon teh dan kelak-kelok jalan menuju puncaknya Puncak. Akhir dari turunan etape ini langsung dihadang oleh warung. Jadi, hati-hati jangan sampai masuk warung sekalian sepedanya.

Etape selanjutnya adalah jalur dengan bekas saluran air. Harus benar-benar menjaga keseimbangan, serta memilih kapan waktunya keluar dari jalur selokan atau tetap menitinya. Tapi, seperti yang dibilang Didit bahwa trek RA itu nikmat, memang benar adanya. Terlebih setelah lepas dari jalan setapak dan menggenjot di tengah hamparan kebun teh. Wah, silakan dikebut meski tetep hati-hati. Soalnya jalurnya bebatuan plus rerumputan. Jalur ini kemudian tembus ke jalan aspal yang menuju ke Gunung Mas. Agak nanjak sedikit di sini, dan Lanu mendapat masalah saat menanjak di sini. Rantainya nyelip di antara as dan piringan gir.

Selepas Gunung Mas kenikmatan itu masih bersahabat. Juga selepas dari hamparan kebun teh masuk ke jalanan aspal. Memang ada satu bagian yang menanjak dan berbelok ke kiri, masih dalam tanjakan. Selebihnya santai sebelum akhirnya tiba di parkiran gerbang Taman Safari. Di sini harus isi minuman sebab di jalur selanjutnya tidak ditemui warung. Begitu pesan Fa. Aku pun membeli Vitazone rasa Sirsak Jeruk.

Habis terang terbitlah gelap. Bersenang-senang dahulu, bersakit-sakit kemudian. Ngehek 1, begitulah istilah tanjakan panjang di trek RA, dimulai dari Parkiran Gerbang Taman Safari. Di sini pula ada joki-joki kecil yang siap menuntunkan sepeda para goweser yang tidak mau menuntun sendiri atau tidak kuat gowes menanjak. Sebelum menjajal trek RA ini aku sempat bertanya-tanya soal Ngehek 1 ini. Dari yang kudenger sih sepertinya tidak semengerikan Cijambe.

Saya mencoba mendahului Fa di tanjakan awal dari Areal Parkir Taman Safari karena penasaran dengan Ngehek 1 itu seperti apa bentuknya. Begitu lihat medannya agak ciut juga. Tanjakan panjang tak berujung menanti di depan. Jalanan dipelur dua sisi. Pelan tapi pasti S-Work hitam meniti tanjakan sampai kemudian berhenti karena peluran terkelupas dan menampakkan batu-batu besar. Aku juga mulai kelelahan.

Setelah menyelaraskan antara napas dan detak jantung plus bertanya ke joki sepeda masih seberapa jauh tanjakan aku pun mulai mengayuh lagi. Akhir tanjakan tajam pun terlihat dan mulai melandai. Ahh … segarnya. Sayang, di tengah enak-enaknya menikmati kayuhan yang tidak berat lagi ada mobil bak terbuka berhenti menunggu rumput yang disabit oleh penduduk. Terpaksa harus berhenti mengayuh dan melajukan sepeda pelan-pelan karena badan jalan yang hampir semuanya tersita oleh mobil bak terbuka tadi.

Selepas tanjakan batu tadi praktis Ngehek 1 sudah kutaklukan. Sekarang tinggal menikmati tanjakan landai di tengah hamparan kebun teh. Sempat terlintas untuk menyingkat jalan dengan masuk ke kebun teh, namun karena belum yakin jalannya aku urungkan niat itu.

Akhir dari Ngehek 1 adalah gubuk peristirahatan. Santai dulu sembari menanti rombongan aku minum Vitazone yang kubeli di Areal Parkiran Taman Safari. Setelah Lanu datang, dua pisang pun berpindah ke perut.

Ngehek 2 siap menunggu. Saya belum tahu bagaimana kondisinya. Hanya saja kata Didit tidak sepanjang Ngehek 2 dan cenderung landai. Sebelum memasuki Ngehek 2 kami berfoto dulu di Gubuk Peristirahatan. Aku dikejutkan oleh suara dua trail yang tiba-tiba muncul dari jalur Ngehek 2. Motor yang belakang terjatuh saat berbelok.

“Berapa rombongan Mas?” aku tanya ke salah satu pengendara trail.

“Tidak banyak kok, sekitar 6,” katanya.

Semprul, batinku. Dua saja menurutku sudah banyak! Apalagi enam. Benar saja, saat di tengah perjalanan aku berpapasan dengan sisa rombongan dan aku tidak mau menepi.

“Sepeda duluan. Motor minggir dulu,” kataku.

Motor yang paling belakang jatuh karena motor di depannya mengerem mendadak akibat trail yang berhadapan dengan sepedaku berhenti. Akhirnya mereka mencari jalur baru.

Uh! Aku baru merasakan dampak jalur ini dipakai berbagi dengan trail. Jalur menjadi berlubang akibat tekanan ban mereka yang tentu lebih berat daripada sepeda. Akibatnya sepeda harus mengikuti jalur ban itu – dengan konsekuensi harus menjaga kestabilan – atau mencari jalur baru dengan konsekuensi terperosok ke jurang.

Susah payah meniti jalur yang berlubang akibat lindasan ban trail akhirnya tiba juga di Gubuk Asbes. Sisa pisang yang dibawa Lanu pun tandas.

Selepas Ngehek jalur yang ada adalah turunan. Wah ibarat imbalan setelah termehek-mehek di Ngehek. Namun justru di turunan tajam ke-2 aku salto terguling. Turunan sambil berbelok ini konturnya berlubang akibat gerusan air yang mengalir.

Aku sudah mengambil jarak dengan Lanu yang ada di depanku. Namun selepas tikungan aku menjadi terkejut sebab Lanu ternyata belum begitu jauh. Padahal kecepatanku sudah lumayan, sekitar 15 kpj. Aku pun teriak ke Lanu bahwa aku akan menyalip dari kanan.

Sayang, aku tidak bisa menguasai lajunya sepedaku akibat berpindah jalur itu dan terperosok ke saluran air atau sering disebut bak kontrol. Dalam kepanikan tiba-tiba saja roda depan terjepit dan aku langsung membuang badan ke depan.

Buk!

Untuk sesaat aku terdiam dan mencoba mencari orientasi. AH langsung membantu untuk menyadarkanku dan aku pun segera mengubah arah, dari tadinya menghadap tanjakan sekarang menghadap ke turunan. Setelah aku tenang baru AH “merapikan” sepedaku.

“Wah, sampai berputar dua kali setangnya,” kata AH.

Aku gak begitu memedulikan kondisi sepeda. Yang aku khawatirkan mounting eTrex Vistaku copot atau patah. Soalnya dulu susah nyari barang itu. Beruntung tidak apa2. Bahkan eTrex-nya masih berfungsi meski “kepala”nya berlepotan tanah.

Selepas kejadian itu aku mulai berhati-hati saat turunan. Beruntung turunannya tidak ekstrem lagi. Sampai ke Bukit Piramid jalanan berumput di tengah hamparan kebun teh. Kewaspadaan tetap terjaga sebab jebakan saluran air masih tersembunyi di bawah rimbunan rumput.

Aku baru bernafas lega setelah jalur berganti ke aspal. Memang, ada tanjakan sebelum pertigaan dan kehidupan mulai terasa di sini. Setelahnya yang ada hanyalah turunan. Turun … turun … sampai akhirnya tiba di samping Rumah Makan Padang Sederhana.

Selesai sudah penaklukan Trek Rindu Alam. Meski sempat jatuh, namun aku siap kembali ke sini.  Entah kapan.

3 Comments »

  1. Wah, Sabtu (23/5) besok KGC ke sana. Kudu ikut !!

    Comment by ush — May 19, 2009 @ 12:15 pm

  2. Mau tnya nh om, Ttk start trek RA dr rmh mkn RA sblhmna’y..?

    Comment by Asep — March 11, 2010 @ 2:59 am

  3. RM Rindu Alam ke atas dikit om. Selepas tugu perbatasan ada warung di sebelah kanan, ya di situ.

    Comment by admin — March 12, 2010 @ 1:54 pm

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> .