Bingung mencari kontak seorang narasumber, seorang teman bilang: Fesbuk aja!
Dan benarlah. Salut untuk Mark Zuckerberg yang membuat situs jejaring sosial ini. Dalam sekali klik saja langsung ketemu nama yang kucari. Cuma, perlu konfirmasi kan? Soalnya nama bisa sama, tapi sosok bisa beda.
Untunglah ada fasilitas send message. Langsung kirim dengan prolog permintaan maaf siapa tahu salah orang, saya langsung kirim pesan maksud menghubungi dia. Tinggal sebentar buat ketak-ketik kata dan buka-tutup jendela lihat situs segepok, tuing …. inbox di facebook bertambah.
Harap2 cemas dan ehmmm … ketemu juga! Padahal kemarin dah pesimis.
Singkat kata selesai sudah perburuan dan kini tinggal menunggu hasil. Seperti dalam jagad mesin pencari, Googling aja …!, kini sepertinya Facebook akan menuju ke tataran itu untuk urusan mencari orang.
Tapi nanti dulu …. Sisi buruk facebook pun patut diperhatikan. Sebuah email pernah saya baca di sebuah milis yang dikirim seorang dosen. Intinya, ada mahasiswinya yang kecanduan fesbuk tanpa menyaring pertemanan. Add friend terus kerjaannya sampai suatu ketika ponselnya dibanjiri dengan pesan-pesan jorok yang membuatnya berkerut kening.
Setelah diselidiki dengan bantuan temannya yang lebih ngerti teknologi, ketahuan bahwa ada teman fesbuknya yang bikin situs “tentang dia” lengkap dengan data-data pribadi termasuk foto-foto pribadi. Nakalnya sang teman maya tadi adalah mengubah “penampilan” si mahasiswi dari gadis baik2 menjadi “gimana gityu …” Dari mana data2 itu bisa diperoleh? Apalagi kalo bukan fesbuk si mahasiswi.
Menteri Sri Mulyani pun mengingatkan mahasiswa untuk tidak ber-fesbuk ria. Beberapa pimpinan perusahaan juga mengeluhkan kinerja karyawannya yang turun karena rajin membuka fesbuk.
Semua kembali ke pribadi masing-masing. Apakah godaan fesbuk ini begitu kuat sehingga mengalahkan rasio, ataukah rasio seseorang begitu kuat sehingga fesbuk tak mempan menggodanya?
Pilihan ada di tangan Anda!