Pada prinsipnya manusia selalu merespon setiap perkembangan teknologi. Dari kalangan atas sampai kalangan bawah. Hanya soal waktu saja yang membedakan. Saat ponsel booming, tukang sayur pun perlu memiliki ponsel demi kelancaran usahanya. Begitu juga tukang ojek. Kini, demam facebook ternyata melanda kalangan marjinal. Bahkan mereka kreatif menyikapinya.
Cerita ini saya peroleh dari “Note” teman di Facebook dia. Tentu saya dah minta izin. Lalu aku edit sebisaku biar nyaman dibaca. Aku di sini tentu saja mengacu ke teman saya ya ….
Kejadian ini bermula ketika secara tak sengaja aku berpapasan dengan penjaja mie ayam keliling yang biasa beredar di depan rumah. Siang itu, kulihat dia tengah berasyik-asyik di pinggir jalan, cekikikan sambil melihat sesuatu yang ada di tangannya. Bahkan saking asiknya, gerobak mi ayam itu ditinggalkannya begitu saja, seakan mengundang pemulung jahil untuk mengangkutnya.
Karena penasaran, diriku pun bertanya, “Mas Jason (panggil saja demikian, karena dia sering dipanggil Son ama pelanggannya “Son … mi ayamnya siji maning sooon …”), sedang apa kok asik bener di pojokan?” tanyaku
“Eh Mas Ganteng … (satu hal yang aku suka dari Jason adalah orangnya suka bicara jujur!). Ini Mas, lagi update status!”
WADEZIG!! “Weehhh … njenengan fesbukan juga to?” tanyaku heran.
“Ya iyalah Mas … Hareee geneee ga fesbukan?!… Lagian ‘kan lumayan juga buat menjaring pelanggan lewat fesbuk. Kata Pak Hermawan Kertajaya ‘kan dalam berdagang kita harus selalu melakukan diferensiasi termasuk dalam hal pemasaran Mass … ”
GLEK!! Kalah aku! Aku yang sering naik kereta ke Jawa saja enggak tahu kalau ada yang namanya Hermawan Kereta Jaya.
“Emang statusnya apa Mas?” tanyaku penasaran.
“Nih Mas aku bacain. ‘Promo Mie Ayam, beli dua gratis satu mangkok, beli tiga gratis nambah kuah, beli empat gratis timbang badan … takutnya Anda obesitas. Segera saya tunggu di Gang Jengkol, depan tengkulak Beras Mpok Hepi. Mie Ayam Jason: Melayani dengan Hati … ampela, usus dan jeroan ayam lainnya.
“GUBRAK!! Dua kosong untuk Mas Jason. Aku yang sudah lama fesbukan saja enggak bisa bikin status seatraktif dia. Tapi ada yang aneh pas kulirik ke ponsel Mas Jason. Aku pikir dia pake ponsel cerdas macam Nokia atau malahan Blackberry yang murah.
Selidik punya selidik, ternyata … ponselnya lawas bin jadul. Layar masih monokrom, suara belum polifonik, dan masih pakai antena luar kayak radio AM. Saya pun langsung bertanya, “Mas, tapi kok bisa update fesbuk pakai ponsel sederhana gitu? Bagaimana caranya?”
“Owwh … gampang Mas, saya tinggal nulis status lewat SMS lalu kirim ke Tri,” jawab dia datar.
“Oh … Masnya pakai Kartu Three ya? Yang gratis internetan itu?”
“Bukaaaan Mas, Tri itu lengkapnya Tri Ambarwati. Dia itu pacar saya, sama-sama dari Tegal, yang kerjaannya jagain Warnet 24 Jam! Jadi kalau butuh update, tinggal SMS dia saj,a nanti dia yang gantiin status saya. La wong dia tiap hari di depan komputer jagain warnet. Paling sebagai balasannya saya kasih mi ayam gratis seminggu sekali. Murah to.”
Mendadak kepalaku pusing bagaikan menderita dehidrasi akut sekaligus hipotermia tingkat tiga. Aku limbung mendengar jawaban spektakuler dari Mas Jason.
BRUK!! “Lo Mas … Mas … Jadi beli mi ayam ndak? Kepriben iki?
UPDATE STATUS GRATIS PAKE TRI MAU???
*hidup sudah susah, jadi jangan serius ya….*
Salam kenal mas Agus. Saya jadi ketawa ga hbs2 baca tulisan ini, sampe suami jd bengong. Gimana enggak, lha wong sy ini termsk org yg paling suka menunda kecanggihan teknologi sampai kepepet pet br mau pake dg alasan “tdk mau diperbudak barang mati”. Contohnya HP sampe ada iklan “haree genee ga pake HP” baru deh pake. Ya termsk punya e-mail dibela-belain dibuatkan suami 3x sampe hangus semua. Yg terakhir baru aktif beberapa bln dengan posisi inbox ribuan ga pernah dibaca. Begitu baca tulisan njenengan….waduh saya gedubragnya ping bolak balik mas, yah smoga hbs ini bertobat biar ga kalah sama bakul mi hahahahaha..
Comment by Hanny — September 28, 2009 @ 8:53 pm