agus sur – another side of …


December 10, 2009

Terapi Kanker: Tak Lagi Hantam Kromo

Category: Health – Tags: , , , – admin – 4:30 pm

Kanker masih menjadi penyakit yang mematikan. Sudah begitu, terapi yang dijalani amat menyiksa. Soalnya tak hanya sel kanker yang diserang, sel yang baik pun terkena serangan. Oleh sebab itu, pengobatan kanker pada umumnya memiliki efek samping yang kurang nyaman bagi tubuh. Ilmuwan lalu mencari agar terapi kanker cespleng, tak menimbulkan efek samping dan langsung menuju sasaran.

Perang terhadap kanker memang terus dikumandangkan mengingat Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat tahun 2007 ada 7,9 juta angka kematian (atau 13% dari total angka kematian di seluruh dunia akibat penyakit) disebabkan oleh kanker. Angka sebesar itu menempatkan kanker sebagai pembunuh nomor dua di dunia setelah penyakit kardiovaskular.

Dari data yang ada, WHO memperkirakan bahwa tahun 2030 angka tadi akan melonjak menjadi 12 juta. Yang juga menjadi perhatian lainnya, 72% kematian akibat kanker terjadi di negara-negara miskin dan berkembang. Tantangan yang harus dipecahkan sebab pengobatan kanker identik dengan biaya mahal.

Seperti yang dikatakan Dr. Dimitris Voliotis, President of Global Clinical Development (Oncology) at Bayer Healthcare in Montville, New Jersey, Amerika Serikat saat membuka loka latih media “Taking Life Further for Cancer Patients” di Shangri-La Far Eastern Plaza Hotel Taipei, “Terapi kanker telah berkembang selama 100 tahun terakhir, namun kanker tetap menjadi sebuah tantangan untuk ditaklukkan. Kami berupaya menemukan terapi kanker yang inovatif dan nyaman bagi pasien. (Kalaupun tidak bisa menyembuhkan) setidaknya bisa memperpanjang usia hidup pasien.”

Bukanlah pengganti

Saat ini yang sedang dikembangkan adalah terapi target. Terapi ini mencoba mengoreksi terapi konvensional yang sudah kita kenal selama ini, seperti terapi kemo. Menurut Dr. dr. Aru Sudoyo, SpPd, KHOM dari FKUI, pada terapi kemo, obat yang dimasukkan ke tubuh menyerang sel kanker dengan merusak atau menghentikan asam deoksiribonukleat (DNA), pusat instruksi pembelahan sel beserta perangkatnya. Penelitian menunjukkan bahwa di samping DNA, dalam sel dikenal berbagai molekul yang berperan sebagai “kurir” pembawa sinyal-sinyal ke DNA tersebut, merangsang pertumbuhan sel menjadi ganas (tidak terkontrol), memudahkan sel kanker membuat suplai makanannya dengan memperbanyak pembuluh darah baru ke arahnya, mengatur pertumbuhan dan progresivitas sel kanker, dan sebagainya.

Seiring dengan perkembangan ilmu kedokteran, perangai sel kanker pun semakin diketahui. Pengobatan pada kanker pun dirancang untuk mengenali dan menyerang reseptor-reseptor yang mengaktifkan molekul-molekul sinyal tersebut. Karena langsung ke sasaran atau target maka jenis pengobatan ini dikenal dengan “targeted therapy” (pengobatan sasaran).

Sasaran yang pertama kali ditemukan adalah reseptor estrogen pada payudara yang bila ditemukan positif pada pemeriksaan patologi maka pasien akan mendapat manfaat bila diberikan preparat berdasar antiestrogen yaitu tamoksifen.

Terapi target juga mengidentifikasi ciri-ciri sel kanker lainnya. Para ilmuwan mencari perbedaan spesifik antara sel kanker dan sel normal. Dengan mengetahui perbedaan ini, maka efek samping bisa diminimalkan sebab hanya sel kanker saja yang diserang. Dengan begitu, masing-masing terapi target bekerja berbeda-beda meski sedikit saja perbedaannya. Namun, pada intinya mereka bekerja untuk mengganggu sel kanker bertumbuh, membelah, memperbaiki dan atau berkomunikasi dengan sel lainnya.

Ada tiga kategori umum terapi target. Pertama, terapi target yang fokusnya pada komponen-komponen internal dan fungsi sel kanker. Pada kategori ini, digunakanlah molekul kecil yang dapat masuk ke sel dan mengacaukan fungsi sel sampai akhirnya mati. Kedua, terapi target yang berfokus pada bagian dalam sel. Terakhir terapi target yang menyasar reseptor yang ada di luar sel. Terapi ini juga dikenal antibodi monoklonal.

Namun mengingat banyaknya reseptor yang ada pada sebuah sel kanker serta banyaknya proses molekul yang berperan di dalamnya, terapi target memiliki kelemahan, yakni tidak cukup ampuh kalau digunakan secara tersendiri. Oleh sebab itu, para peneliti setuju bahwa terapi target bukanlah pengganti terapi tradisional. Yang dapat dilakukan adalah menambahkan pada regimen kemoterapi dan menaikkan ekikasi atau efektivitas. Itu pun tidak banyak, sekitar 5 – 20%. Saat ini terapi target digunakan sebagai tambahan pada berbagai jenis tumor seperti paru, usus, dan payudara.

Pengecualian ditemukan pada beberapa kanker tertentu, yaitu hati dan ginjal. Kedua jenis kanker ini memang dikenal tidak “mempan” terhadap obat-obat sitostatika, sehingga obat target merupakan obat utama. Obat-obatan yang dipakai dalam hal ini adalah sorafenib (merek dagangnya Nexavar) dan sunitinib (merek dagang: Sutent).

Masih ada efek sampingnya

Sorafenib bekerja dengan cara membidik sel tumor dan sistem pendarahan tumor. Dalam uji praklinis, sorafenib terbukti dapat menghambat dua jenis kinase yakni profilerasi sel dan angiogenesis (pembentukan pembuluh darah) yang berperan besar dalam proses pertumbuhan kanker. Akan tetapi, kedua kinase tadi juga penting bagi sel normal, sehingga sorafenib bisa mempengaruhi beberapa sel normal.

Menurut Jordi Bruix, konsultan senior di Unit Hepatologi Hospital Clinic of Barcelona, sorafenib dalam uji cobanya sanggup memperpanjang harapan hidup pasien 10,7 bulan dibandingkan dengan pasien yang diberi obat plasebo (7,9 bulan). “Nexafar merupakan satu-satunya oral treatment yang disetujui untuk mengobati kanker yang tidak bisa diangkat dengan operasi,” katanya. Ini menjadi harapan bagi penderita kanker hati sebab kebanyakan penderita datang ke dokter sudah stadium tengah atau malahan lanjut.

Terlambatnya kanker hati diketahui karena kanker ini memang tidak memiliki gejala yang khas. “Gejalanya tidak spesifik sampai tahu-tahu sudah stadium akhir. Makanya kanker ini dikenal sebagai silent killer,” kata Bruix. Gejala-gejala yang patut diwaspadai misalnya berat badan turun, kurang nafsu makan, cepat kenyang meski makannya sedikit, capek, dan mual.

Kanker ini lebih banyak menyerang orang Asia dibandingkan Eropa. Karena gejalanya yang umum itu, Bruix menyarankan agar petugas medis di tingkat Puskesmas dibekali pengetahuan yang cukup agar bisa menangkap gejala kanker ini secara lebih dini.

Pada November 2007, Nexavar memperoleh persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) untuk digunakan sebagai obat bagi pasien kanker hati yang tak dapat dioperasi. Obat ini juga disetujui untuk digunakan di lebih dari 80 negara sebagai obat kanker hati, termasuk di Australia, China, Hong Kong, Indonesia, India, Korea, Malaysia, Pakistan, Filipina, Thailand, dan Singapura. Selain mengobati kanker hati stadium lanjut, obat ini juga digunakan untuk terapi kanker ginjal stadium lanjut.

Bahkan untuk mengobati kanker ginjal ini FDA sudah menyetujuinya sejak 2005, membuatnya sebagai obat pertama yang disetujui FDA untuk penyakit ini dalam lebih satu dekade terakhir. Sudah lebih dari 90 negara menyetujui Nexafar sebagai obat kanker ginjal, termasuk Indonesia.

Meski sudah canggih langsung menuju sasaran, sorafenib tak serta merta bebas gangguan saat digunakan. Beberapa efek sampingan yangdilaporkan oleh pasien antara lain diare, merah di kulit, dan terkelupasnya kulit telapak tangan dan kaki. Lain lagi dengan yang dialami Ida Haryani Soemawilaga (51). “Sendi-sendi saya terasa sakit semua. Mirip rematik. Tapi saya masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari saya kok.” Situs kesehatan Yahoo bahkan menyebutkan sorafenib dapat menyebabkan tekanan darah tinggi (hipertensi). Oleh sebab itu, sebelum menggunakan pengobatan ini jika Anda penderita hipertensi harap berterus terang.

Sedangkan sunitinib merupakan terapi biologi yang dikenal dengan pengalang protein kinase. Protein kinase adalah enzim yang berperan dalam pertumbuhan sel kanker. Sunitinib mengeblok protein kinase untuk menghentikan pertumbuhan kanker. Di samping untuk obat kanker ginjal, sunitinib juga digunakan secara klinis pada kanker payudara. Akan tetapi, obat ini juga memiliki efek samping. Beberapa yang tercatat misalnya kelelahan, diare, perubahan kulit menjadi kering, sakit di mulut, meningkatnya tekanan darah, menurunnya denyut jantung, letih, serta berkurangnya kesuburan.

Penelitian tentang terapi target terus dilakukan. Bayer, misalnya, mengevaluasi penggunaan Nexafar untuk terapi kanker lainnya, seperti kanker tiroid, kanker paru jenis karsinoma bukan sel kecil, dan kanker payudara. Untuk penelitian itu sudah disiapkan investasi lebih dari AS$ 400 juta. Diharapkan nantinya pengobatan kanker ibarat mengirimkan penembak jitu ke dalam tubuh dibandingkan dengan mengirimkan bom dalam menggempur kanker. (Desember 2009)

boks.
3 Bulan Bayar, Selanjutnya Gratis

Seperti ujaran orang Jawa, jer basuki mawa bea, ada biaya untuk memperoleh harapan hidup dari Nexafar. Untuk sebulan perlu Rp 60 juta untuk menebus Nexafar yang dikonsumsi setiap hari (dua kali sehari @400 mg Nexafar). Karena obat ini digunakan selamanya, bisa dibayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan. Terlebih pasien kanker hati sudah melewati masa produktifnya.

Beruntunglah, untuk Indonesia terdapat program NexPAP (Patient Assistant Program) yang diselenggarakan oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bekerja sama dengan Bayer, produsen Nexafar. Namun tak sembarang pasien bisa mengikuti program yang sudah berjalan satu tahun ini. Menurut dr. Adityawati Ganggaiswari, M.Biomed, sekretaris medis dan kepala depot obat YKI ada serangkaian syarat sebelum pasien bisa mendapatkan Nexafar gratis. Misalnya memperoleh persetujuan dari dokter yang berkompeten bahwa si pasien memang membutuhkan Nexafar serta membeli Nexafar untuk kebutuhan selama tiga bulan pertama. Setelah persyaratannya terpenuhi (termasuk melampirkan bukti dus pembelian Nexafar), maka berkas permohonan ini akan diverifikasi oleh YKI dan pihak Bayer. Sejauh ini sudah ada 24 orang penerima Nexafar gratis ini. Salah satunya Ida yang menderita tumor hati. Adanya program itu tentu sangat membantu sebab Nexafar belum tercakup program Askes.

Di samping NexPAP, YKI juga mendidik dokter-dokter umum di Puskesmas agar memiliki pengetahuan tambahan seputar gejala-gejala kanker. Ini berkaitan dengan gejala kanekr hati yang sangat umum. Jika bisa terdeteksi lebih awal tentu penanganan kanker hati lebih mudah.

No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> .