agus sur – another side of …


December 22, 2009

Tour de Gunung Bunder

Category: Gowesanku, Petualangan – Tags: , – admin – 2:12 pm

Termasuk gowesan terjauh selama ini (110-an km), Tour de Gunung Bunder memberikan pelajaran bagiku. Ya, perlu membawa Panadol selain obat-obatan standar.

Profil Tanjakan Gunung Bunder

Penampang Melintang Tour de Gunung Bunder

Ini merupakan salah satu gowesanku yang terjauh. Jika dihitung dari rumah sekitar 110 km. Mengetes dengkul dan ketahanan menggenjot sepeda karena medannya nanjak (lihat gambar). Sebagai persiapan jika diajak touring bersepeda. Dulu pengen banget touring dengan motor, tapi kini kok malah demennya pakai sepeda.

Janjian dengan Fredy di seberang Citos pukul 06.00 ternyata aku agak molor dikit. Baru sampai Cilandak sudah ditelepon Fredy yang memberi tahu ia sudah di depan RS Fatmwati. Ya wis, aku pun agak mempercepat gowesan dan sampai di tikum sekitar pk 6.10. Sempat ditanya apa bawa pompa. Ternyata ban belakang Fredy agak kempes.

Langsung gowes menuju Cinere Mal dan tiba pukul 06.28 buat sarapan bubur. Sebelumnya pas masuk Jalan Cinere Raya Kang Gun menelepon menanyakan arah. Ternyata dia sudah sampai di Parung dan bingung ambil kanan apa ke kiri. Ya sudah pasti ambil ke arah Bogor dong haha…

Sarapan sekitar 15 menit, pukul 06.45 langsung berangkat menuju Gunung Bunder via Ciseeng. Jalanan relatif sepi meski ada beberapa ruas jalan di Jl Cinere Raya ini sedang dilapis beton. Melihat ada fasilitas isi angin di sebuah SPBU di Jalan Limo Raya, Fredy langsung mampir. Ternyata bukannya isi angin malah buang angin. Ya sudah, terpaksa nuntun mencari isi angin yang pas inletnya. Sekitar 1 km ketemu bengkel motor dan langsung isi angin.

Arah Parung pembetonan jalan sudah rampung sehingga jalan menjadi mulus. Sepi lagi. Makanya, sampai Pasar Parung sekitar pukul 07.30. Merayap sebentar di pasar karena angkot yang ngetem sembarangan plus aktivitas pasar. Selepas itu jalanan mulus kembali. Pembetonan yang dulu waktu lewat sini sedang dikerjakan sudah selesai. Makanya, gowesnya bisa kenceng hehe…

15566_1295796921953_1441247437_814050_4983799_n

Suasana Pasar Ciampea

Melewati perempatan jalanan masih mulus dan sampai akhirnya ketemu pertigaan yang kalo ke kanan ke Rumpin dan ke kiri ke Bogor/Semplak. Ambil kiri jalan beton masih mulus menuju Atang Senjaya. Di pertigaan jalan rusak dan tempat mangkalnya ojek, perjalanan berbelok ke kanan mengambil arah ke Ciampea. Di plangnya juga terbaca Prasasti Ciareteun (wah, semoga tulisannya benar). Jalanan menurun sampai akhirnya ketemu jembatan yang sayang sekali tidak dipotret. Soalnya selepas jembatan langsung menanjak jalannya. Ketemu lagi dengan pasar. Macet lagi tentunya hehe …

Dari pasar lanjut terus sampai ketemu jalan raya Bogor – Rangkasbitung. Sebentar menyusuri sebelum akhirnya belok kiri menuju Gunung Bunder. Tanjakan pun sudah dimulai. Sampai di titik ini waktu menunjukkan pukul 08.52 dan elevasi 180 m dpl.

Jalanan mulus namun sempit, sekitar 4 m. Kanan kiri pemukiman dan terkadang ada sawah. Jalanan ini menanjak terus sampai ke ketinggian 1.015 m dpl. Waktu yang diperlukan sekitar 3.25 menit untuk jarak sekitar 19,5 km ini. Sempat berhenti beberapa kali, menunggu Fredy dan karena memang haus. Di kawasan Gunung Bundernya sendiri ada beberapa turunan yang tentu disusul tanjakan. Malah ada yang berbelok lagi.

Di tanjakan berbelok sebelum sampai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS)  aku bertemu dengan Kang Gun yang saya pikir sudah masuk kawasan. Mengejar sebentar buat say hello sebelum akhirnya membiarkan dia lolos merayapi tanjakan yang memang aduhai itu hehe…

kang gun di depan gerbang TNGHS

kang gun di depan gerbang TNGHS

_Di warung sebelum pintu gerbang kami berhenti untuk makan sambil menunggu Fredy. Sampai di pintu gerbang ini pukul 10.41. Total sudah hampir 4,5 jam gowes dari Fatmawati ke pintu gerbang TNGHS. Hampir satu jam istirahat sebelum akhirnya lanjut masuk ke kawasan Taman Nasional. Tumben, tidak banyak pengunjung saat itu. Yang justru banyak adalah para siswa yang sedang berkemah. Juga tentara yang sedang latihan sebab kawasan ini memang digunakan sebagai tempat latihan.

Kami pun sepakat bahwa akan menyusuri jalan di dalam TNGHS ini sampai keluar di pintu gerbang satunya. Turun langsung ke Bogor. Awalnya mau mampir ke toko sepedanya Weimein, namun berhubung sampai di pertigaan Leuwiliang sudah kesiangan (pukul 13.23), keinginan itu batal. Jadi ya langsung menuju stasiun untuk pulang ke Jakarta.

Sampai di stasiun pukul 14.42 dan tak lama kemudian KRL AC Ekonomi pun berangkat. Total perjalanan sekitar 100-an km dan waktu yang dibutuhkan sekitar 8,5 jam.

Lalu, kenapa harus bawa Panadol? Saya enggak tahu kenapa, namun setiap telat makan dan beraktivitas berat seringnya kepala terasa sakit. Cenat cenut. Biasanya manjur jika dihajar dengan Panadol merah.  Nah, kemarin itu mencari Panadol merah tidak bertemu.

3 Comments »

  1. boleh ikut gabung om…tinggal aku di citayam.

    Comment by aris setiawan — January 8, 2010 @ 3:46 pm

  2. Om, boleh nanya?

    110km itu dari start gowes di mana ya? Boleh dishare peta tracknya? Lantas, di gunung bundernya gowes sampe mana sebelum kembali lagi?

    Salam mantabh!

    Comment by evinovin — April 11, 2010 @ 9:50 pm

  3. start dari condet om. trus ke tb simatupang menuju citos. peta track bisa dilihat di http://www.everytrail.com/view_trip.php?trip_id=445073. Di gn bundernya ya gowes dong. Enak kok gowes di sana meski jalannya nanjak.

    Comment by admin — April 13, 2010 @ 5:17 pm

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> .