Tak kenal maka tak sayang. Tak sayang maka tak mengerti? Entahlah, yang jelas mengerti dan memahami suatu alat yang kita punya mutlak kita lakukan agar tak bermasalah di kemudian hari.
Apa yang aku alami waktu liburan ke Jogja menyadarkan diriku untuk mengamini pernyataan tadi. Gara2 tidak mengerti alarm aku repot saat ada masalah. Sewaktu mengantar 01 ke terminal bus aku parkir di parkiran terminal. Seperti biasa Simeta aku kunci menggunakan alarm.
Saat mau pulang, begitu mencet tombol alarm tidak ada respon, aku mikir batere remote sudah mulai lemah. Langsung aku keluar terminal dan mencari batere CR2032. Ternyata susahnya minta ampun. Di setiap toko yang ada di seputaran terminal yang aku kira menjual batere kancing seperti itu tidak ada yang menjualnya. Mulai dari Alfamart, toko elektronik, tukang servis jam, sampai toko onderdil mobil.
Akhirnya nyegat becak untuk jangkauan yang lebih luas. Hasilnya nihil juga. Malah melayang uang Rp 20rb untuk ongkos becak. Kembali ke parkiran terminal dengan putus asa dan mencoba pencet tombol remote lagi! Tetap gak ngaruh! Sewaktu ada orang memarkir mobil saya dekati dan tanya apakah batere remotenya sama? Ternyata tidak.
Terpaksa nyari ojek dan nyari ke tempat yang lebih jauh lagi. Dari informasi yang aku peroleh di Kotagede ada toko jam yang besar. Akhirnya ketemu juga dan ditebuslah batere kancing seharga Rp 7.000,- itu. Ongkos ojek Rp 15.000,-. Hmmm, jika digabung dengan ongkos becak tadi sudah Rp 35.000,- melayang demi barang seharga Rp 7.000,-. Belum ongkos waktu yang tak bisa dibilang murah hehe… Sekitar dua jam nyari ini barang.
Selesai masalah? Hmmm… aku hampir saja membanting remote manakala ternyata alarm tidak bisa mati juga. Duh … gimana nih?
Akhirnya aku telp Pak Djarwo, kabeng Daihatsu Ponpin. Waktu itu ybs ada di Bali. Saya tanya bagaimana melumpuhkan alarm Simeta. Setelah diberitahu harus nyopot kabel di aki, maka segera pintu aku buka manual. Bunyi klakson menyalak namun aku cuekin. Langsung aku ambil kotak peralatan dan membuka kap mesin. Segera mencari kabel yang ada di masing-masing kutub. Namun tidak ada yang seperti digambarkan Pak Djarwo. Coba lepas salah satu kabel dan alarm memang mati. Tapi mobil tidak bisa dinyalakan juga.
Tak memberi solusi, aku telp Bengkel Daihatsu Jogja. Malangnya, batere ponselku low bat. Waduh … ada2 saja masalahnya. Telp adikku untuk datang ke terminal sekaligus membawa pulang 02 yang rewel karena lapar sekaligus pinjam ponselnya.
Karena batere ponsel dah sehat maka saya pun leluasa menelepon bengkel. beberapa kali menelepon sambil dipandu, akhirnya alarm berhasil aku lumpuhkan. Setelah bisa dinyalakan, mobil pun aku bawa ke bengkel. Meski penuh tapi aku nekat sebab harus selesai masalah ini dan pulang ke Jakarta malamnya.
Bengkel Daihatsu Jogja tidak bisa memperbaiki permasalahannya. Akhirnya aku pun pulang dengan lunglai. Seharian tidak berhasil menyelesaikan masalah. Belum mandi lagi hehe… Alhasil ke Jakarta pun alarm mati. Buka tutup pintu pakai cara manual.
Sesampai di Jakarta, koordinasi dengan Pak Djarwo lagi akhirnya Simeta masuk bengkel. Tak pikir akan memakan waktu lama sebab kata Bengkel Daihatsu Jogja receivernya rusak, maka aku siap2 meninggalkan Simeta di bengkel.
Tak tahunya, Imron – SA atawa Service Advisor bengkel, langsung mendatangi aku sambil tanya di mana sekring yang dicopot. Imron juga bilang bahwa masalahnya sudah selesai. Ia mencoba sekring dari gudang dan tidak ada masalah. Nah, sekring yang aku copot lalu dicoba-coba dan ternyata ada satu sekring yang mati! Setelah dicek ternyata sekring itu kurang besar amperenya.
Mau tahu berapa harga sekring itu? Rp 2.500,-. Mau tahu berapa waktu yang aku habiskan untuk menunggu perbaikan? Tak lebih dari 30 menit.
Ah, pelajaran yang mahal. Untuk Bengkel Daihatsu Jogja, tolong tingkatkan ilmunya ya…