agus sur – another side of …


February 2, 2008

Paradoks Marketing bernama GT Rally

Category: Go Green – Tags: , , – admin – 7:09 pm

Saya lupa dulu baca di mana, tapi istilah Paradoks Marketing waktu itu digunakan untuk menggambarkan sponsorship rokok pada kegiatan olahraga. Dikatakan paradoks sebab rokok merusak kesehatan, sedangkan olahraga, kita tahu, sering diresepkan oleh para dokter untuk menjaga kesehatan kita.

Nah, belum lama ini, tepatnya 27 Januari 2008, saya merasakan sendiri sebuah kegiatan yang bersuasana Paradoks Marketing tadi. Dalam satu sisi ingin membangkitkan kesadaran untuk mencintai lingkungan, namun di sisi lain kegiatan ini merusak lingkungan. Nah, paradoks ‘kan?

Pembentukan kesadaran itu mewujud dalam brosur yang dibagikan ke setiap peserta saat mereka mengikuti scruiteening. Selain berisi visi – misi diadakan rally tadi, brosur itu berisi tentang pemanasan global dan dampak-dampaknya. Juga disajikan beberapa jenis tanaman yang bisa digunakan untuk mengurangi dampak pemanasan global. Isinya bagus, dan salut atas tim penyusunnya. Namun, produk bagus belum tentu disukai orang. Apalagi ini soal lingkungan yang masih banyak orang belum sadar. Contoh paling dekat, ya temanku yang jadi driver dan kebetulan pemiliki mobil yang ikut rally. Begitu rally usai dan mobil masuk garasi, lenyap pula brosur tadi. Padahal salah satu brosur itu “punyaku”.

Setiap peserta disuruh mendaftar ulang pukul 07.00 di halaman depan Senayan City. Rally-nya sendiri dimulai sekitar pukul 08.30. Hari memang masih pagi, tapi halaman depan Senayan City yang tanpa peneduh tentu bukan tempat yang nyaman buat menunggu. Alhasil, peserta yang sudah daftar ulang terpaksa menunggu di dalam mobil sambil membaca brosur. Menunggu di dalam mobil tanpa menyalakan AC? Ih … apa enaknya? Tetesan air yang membasahi aspal dari mobil yang ngetem pun menjadi pemandangan yang lumrah dalam situasi ini. Nah, sadarkan panitia bahwa ini pemborosan? Menurut seorang manajer servis sebuah bengkel, memanasi mobil selama 45 menit setara dengan membuang bahan bakar sebanyak 1 l. Terlihat kecil. Tapi perhitungkan juga dengan hasil bakarannya. Tidak terpikirkah oleh panitia untuk segera memberangkatkan peserta yang telah mengantri di depan?

Rally-nya sendiri menarik dan standar. Dalam artian, mereka yang sudah pernah mengikuti rally seperti ini pasti sudah memiliki irama dan rutinitas yang dah nyemplak di otak, baik itu si driver atau navigator. Bagi yang belum pernah ikut seperti saya, ya masih gaprel (gagap reli hehe…). Beberapa pertanyaan menyangkut seputar hal yang ada di jalanan atau di brosur.

Mendukung upaya industri otomotif mengurangi dampak lingkungan, dalam rally ini juga diadakan uji emisi. Sekali lagi, ini cuma formalitas saja. Knalpot dimasukkan alat penguji, hasil dicetak, lalu memperoleh stiker yang kudu ditempel di mobil (eh … kaca mobil ding). Tidak ada penjelasan di balik angka-angka yang tercetak di kertas cetakan yang kemudian dibuang itu. Yang penting sudah memenuhi standar ya sudah. Tidak tahu apakah yang tidak memenuhi berarti dididiskualifikasi atau boleh terus ikut dengan catatan.

Sedangkan upaya untuk mencegah dampak pemanasan global, di halaman belakang Museum Purnabhakti Pertiwi setiap peserta disuruh menanam tanaman. Cuma ya dilepas begitu saja. Hanya ada perintah tanam sendiri dan nomor genap di sebelah sana, nomor ganjil di sebelah sini. Menanamnya saja tidak diawasi. Jadi ya tergantung masing-masing tim. Tidak diajari bagaimana menanam tanaman yang potnya menggunakan polibag. Plastik itu sulit untuk terurai Mas. Jadi tolong ambil dulu plastik polibag-nya sebelum tanaman dimasukkan ke lubang. Tidak juga dikasih papan yang berisi nama pohon, siapa penanam, dan kapan ditanam. Padahal ini akan memberikan kepuasan tersendiri bagi si peserta.

Ketika masuk ke Kebun Binatang Ragunan saya kira akan memperoleh “sesuatu” soal pemanasan global. Tidak tahunya cuma panggung yang diisi oleh penyanyi bergaya dan bertingkah seronok. Apa iya kudu begitu? Apalagi tingkah penyanyi yang bahasa tubuhnya vulgar. Ini kebun binatang Mas! Penontonnya tidak semuanya orang dewasa. Banyak anak-anak dan remaja yang lagi birahi. Kalau binatang yang birahi sih tidak masalah. Toh mereka sudah dikandangkan dengan pasangannya. Di sini pun acara menunggu di mobil terjadi lagi. Entah mengapa harus menunggu semua peserta kumpul lalu berangkat bareng-bareng menuju pangkalan terakhir (Senayan City). Padahal secara teknis rally sudah finish. La, mbok yang sudah selesai suruh langsung ke Senayan City. Bukankah di sana sudah ada panggung penyambutan? Jadi, pemborosan dan pelepasan gas karbonmonoksida yang jahat bagi lingkungan bisa ditekan.

Yah, namanya juga paradoks!

2 Comments »

  1. weits…dah bisa nih om…
    http://digitalmbul.com/blogs/2008/02/09/ahrally-itu-lagi/

    Comment by Rio Octaviano — February 13, 2008 @ 3:29 am

  2. http://digitalmbul.com/blogs/2008/02/09/ahrally-itu-lagi/

    Comment by Rio Octaviano — February 13, 2008 @ 3:34 am

RSS feed for comments on this post. | TrackBack URI

Leave a comment

XHTML ( You can use these tags): <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> .